Manusia Sama di hadapan Allah

2 Comments

Kisah Para Rasul 10: 28 – 34

“Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.”  Kisah 10: 34b

Agama bisa membuat kita terpisah dari orang lain. Agama yang seharusnya adalah alat pemersatu bisa memecah-belah antara sesama umat manusia kalau agama itu dipahami secara dangkal. Satu contoh yang bisa kita lihat adalah dari ayat 28, yang mengemukakan bahwa bagi seorang Yahudi dilarang keras bergaul dengan orang yang bukan Yahudi. Bahkan masuk ke rumah orang Yahudi pun tidak boleh. Ini adalah pemahaman yang dangkal akan arti beragama yang sebenarnya. Mungkin maksudnya adalah untuk menjaga kemurnian atau supaya tidak terpengaruh oleh orang lain. Namun sesungguhnya itu adalah gambaran akan kedangkalan pemahaman keagamaan yang sesungguhnya. Itu membuktikan mereka tertutup (eksklusif) terhadap perkembangan atau pun terhadap sesuatu yang baru.

Namun Petrus telah keluar dari pemahaman yang seperti itu. Dia berkata: ”Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.” (Kisah 10: 28). Artinya, orang lain (selain dari Yahudi) adalah sesama manusia yang patut dihormati dan dihargai. Sehingga ketika ia berbicara kepada Kornelius dan sanak saudara dan sahabat-sahatnya yang telah diundangnya ke rumahnya, berkata: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.” (Kisah 10: 34). Tentunya kita semua adalah sama di hadapan Allah, tentunya sesama ciptaan dilarang untuk saling menghina atau merendahkan.

Pola pikir “etnocentrisme” More

Advertisements

Penyertaan Allah

2 Comments

Kejadian 31: 36 – 44 

Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.” Kejadian 31: 42


Selama dua puluh tahun Yakub melarikan diri dari kemarahan Esau. Selama dua puluh tahun itu pula ia tinggal dan bekerja pada pamannya Laban. Dan selama dua puluh tahun ia bekerja pada pamannya, ternyata Yakub menghadapi banyak sekali tantangan dan cobaan. Tantangan dan cobaan itu adalah akibat dari kecurangannya dengan mencuri berkat yang semestinya untuk abangnya Esau dari ayahnya Ishak.

Di dalam pelariannya tersebut Yakub bekerja dengan sungguh-sungguh kepada pamannya Laban yang walaupun dalam kenyataan pamannya sering sekali berbuat curang kepadanya. Kesungguhannya membuahkan hasil. More

Doa, Permohonan, dan Keluhan kepada Allah

5 Comments

Ibrani 5, 7

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

Tagan jolma Ibana, dipelehon do angka pangidoanna dohot elehelekna, mardongan angguk bolon dohot iluilu tu na tuk paluahon Ibana sian hamatean; jadi ditangihon do Ibana, gabe malua sian hatahuton i.

Bagaimanakah dengan doa-doa kita? Apakah biasa-biasa saja? Sehingga setiap kali kita berdoa, seakan tidak ada gunanya, dan membuat doa itu hanya menjadi sebuah rutinitas untuk menjaga sikap supaya orang lain tidak menganggap kita orang yang tidak tahu berdoa? Ataukah harus dengan menangis barulah doa itu sah dan sesuai dengan standar yang kita punya?

Adalah menjadi pergumulan ketika di setiap pertemuan dan persekutuan di HKBP sangat kesulitan untuk mengiyakan kalau di minta untuk memimpin doa. Seperti ketika ibadah-ibadah sector atau wijk, persekutuan kaum bapak atau kaum ibu misalnya. Saya masih ingat di sebuah gereja yang pernah saya layani, kalau sudah giliran ibu tersebut untuk memimpin doa, dia akan mengusahakan supaya terlambat datang. Terkadang, sebelum masuk dia sudah menghubungi saya supaya tugasnya di gantikan.

Adalagi seorang bapak mengatakan, More

Mengenal Diri di Hadapan Allah

1 Comment

Matius 7: 1 – 5

(Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Matius 7: 2)

Socrates, seorang ahli filsafat pernah mengatakan, “gonoti seuton”, artinya kenalilah dirimu. Mengenali diri itu sangat penting sebab dengan itu kita akan mengetahui siapakah diri kita, sebaik dan seburuk apakah kita. Dengan mengenal diri kita akan mengetahui siapakah kita di hadapan Allah, yaitu ciptaan Allah sesuai dengan gambarNya, tetapi telah jatuh ke dalam dosa dan tidak dapat melepaskan diri dari dosa dengan mengandalkan diri sendiri, oleh karena itu sudah sepantasnya mendapatkan hukuman. Dengan mengenal diri, kita akan tahu bahwa hanya oleh karena anugerah Allah di dalam Yesus Kristus, kita memperoleh keselamatan dan kehidupan yang kekal.

Dengan pengenalan diri tersebut kita akan dimampukan untuk mengenal orang lain, juga akan mengetahui bahwa orang lain bisa salah, dan jatuh ke dalam dosa. Sebab itu tidak ada alasan untuk menghakimi orang lain, karena kita pun bisa salah dan jatuh ke dalam dosa.

Itu sebabnya Tuhan Yesus mengatakan, More

Jangan Berharap Pada Sesuatu Yang Tak Tentu

Leave a comment

Ev. 1 Timotius 6: 17 – 19

“…dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” 1 Timotius 6: 17b

Jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal. Hidup akan berlalu, dunia akan berlalu, termasuk juga kekayaan akan berlalu. Orang bisa hidup, menjalani pekerjaan dengan baik, mendapatkan kesehatan, atau pun menjadi kaya, semuanya itu adalah pemberian Allah untuk dinikmati. Oleh karena itu, ketika seseorang mendapatkan berkat untuk menjadi kaya, janganlah ia jatuh kepada sikap hidup “tinggi hati” (1 Tim. 6: 17). Mereka yang kaya hanya di dunia ini semasa hidupnya, sementara mereka miskin di dunia yang akan datang, mereka tidak kaya di hadapan Allah (Luk. 12:21).

Jangan pula berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan. Karena “ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri mencurinya” (Mat. 6:20). Oleh karena itu janganlah berharap pada pada kekayaan materiil karena itu hanya berlaku untuk dunia ini saja, dan kekayaan itu pun tidak bisa senantiasa diandalkan.

Melainkan, More

Segala Sesuatunya Tergantung Allah

1 Comment

Pengkhotbah 6: 1 – 12

“Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pengkhotbah 6: 2)

Ada seorang petani di sebuah desa dengan seorang anak satu-satunya, sementara isterinya sudah tidak ada. Harta satu-satunya adalah seekor kuda. Suatu ketika kudanya ini lepas dan hilang di hutan. Lalu orang-orang berkata: Kasihan ya, sudah duda, anak hanya satu, hartanya hanya satu ekor kuda. Itu pun sudah hilang. Si petani pun menjawab: Kasihan? Semuanya tergantung kehendak Allah.

Suatu ketika, kudanya yang hilang itu kembali, dan anehnya bukan hanya kudanya yang kembali tetapi diikuti oleh beberapa kuda liar, sehingga kudanya menjadi banyak. Lalu orang-orang berkata: Beruntung sekali hidupnya, padahal dia sudah duda, anaknya hanya satu, tetapi kudanya makin bertambah banyak. Lalu si petani menjawab: Beruntung? Semuanya tergantung kehendak Allah.

Karena kudanya sudah banyak, More

Peringatan Kepada Orang Kaya

Leave a comment

Yakobus 5: 1 – 6

“Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.”
Yak. 5: 6

Terungkapnya kasus-kasus penyelewengan dan penyalahgunaan keuangan Negara membuktikan bahwa masih banyak di Negara ini yang menjadi kaya adalah karena korupsi. Sesuatu jalan memperoleh harta yang tidak di kehendaki Allah. Oleh karena itu juga kita harus jeli, sebab kekayaan seseorang belum tentu itu adalah berkat Tuhan, karena bisa saja kekayaannya itu diperoleh dari cara-cara yang tidak baik, seperti mencuri, menyalahgunakan kekuasaan, korupsi, memeras orang lain dan sebagainya.

Nas kita juga melihat hal itu. Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! (Yak. 5:1). Mengapa dikatakan menangis dan meratap? Karena kekayaan adalah fana. Sengsara akan datang bilamana kiamat sudah datang. “Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api” (Yak. 5:2-3). Itu artinya bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, semuanya akan berlalu dan menjadi busuk.

Lebih mengerikan lagi More

Older Entries