Kejadian 31: 36 – 44 

Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.” Kejadian 31: 42


Selama dua puluh tahun Yakub melarikan diri dari kemarahan Esau. Selama dua puluh tahun itu pula ia tinggal dan bekerja pada pamannya Laban. Dan selama dua puluh tahun ia bekerja pada pamannya, ternyata Yakub menghadapi banyak sekali tantangan dan cobaan. Tantangan dan cobaan itu adalah akibat dari kecurangannya dengan mencuri berkat yang semestinya untuk abangnya Esau dari ayahnya Ishak.

Di dalam pelariannya tersebut Yakub bekerja dengan sungguh-sungguh kepada pamannya Laban yang walaupun dalam kenyataan pamannya sering sekali berbuat curang kepadanya. Kesungguhannya membuahkan hasil. Hal itu terlihat dari pernyataan Yakub kepada pamannya, ”Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.” (Kej. 31: 38 – 41).

Mengapa Yakub bisa melalui semuanya itu? Yakub sadar bahwa hal itu disebabkan penyertaan Allah dalam hidupnya. Sebagaimana Yakub katakan, ”Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.” (Kej. 31: 42).

Semuanya adalah karena penyertaan Allah. Yakub sadar bahwa Allah benar-benar campur tangan dalam hidupnya, atas apa yang telah dilaluinya. Kesadaran akan campur tangan Allah membuat Yakub yakin bahwa tidak ada satu hari pun dalam hidupnya yang tidak diketahui oleh Allah. Oleh karena itu, Yakub memiliki keberanian yang baru untuk menempuh perjalanan hidupnya. Itulah yang menjadi kesaksian hidup Yakub sebagaimana ia pesankan kepada Yusuf anak yang dikasihinya beberapa waktu kemudian, ”….. Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang,……..” (Kej. 48: 15).

Selaku orang percaya, kita juga patut menyaksikan bahwa kita ada sampai sekarang dan bisa melalui segala perkara yang kita hadapi adalah karena penyertaan Allah. Seandainya Allah itu tidak setia menyertai kita, entah apa jadinnya hidup kita sekarang ini.

Doa: Allah yang Mahabaik, yang menyertai hidupku setiap saat, kepadaMulah segala puji dan hormat atas kemurahan yang telah Engkau berikan. Amin.

lihat juga warta HKBP Subang,Agustus, 15, 2010