2 Korintus 5, 10

Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Ai ingkon gabe patar be do hita saluhutna sogot di jolo ni habangsa paruhuman ni Kristus, asa dijalo be hombar tu na niulana, tagan di pardagingon, manang na denggan, manang na roa.

Sebuah ilustrasi menceritakan bahwa pada penghakiman terakhir kita akan menghadap pengadilan Kristus. Semua orang akan diadili sesuai dengan perbuatannya, tidak terkecuali, ada hakim, pendeta, sopir, pedagang asongan, dari yang miskin sampai yang kaya, tua dan muda, besar dan kecil dan sebagainya.

Tibalah giliran pendeta yang di panggil. “Kamu, masuk neraka!” si pendeta protes, “mengapa Tuhan?” Kamu masuk neraka, karena setiap kali kamu berkhotbah, jemaatmu ngantuk samua. Tidak ada yang mendengarkan!”

Giliran hakim juga demkian. “Kamu, masuk neraka!” si hakim protes, “mengapa Tuhan?” Ia, karena kamu menghakimi dengan tidak benar, yang salah kau benarkan dan yang benar kau salahkan.”

Sampailah giliran seorang sopir angkot. Dia merasa bahwa ia sudah pasti masuk neraka, karena selama hidupnya dia membawa angkot dengan ugal-ugalan. Si pendeta dan si hakim juga merasa demikian, “sudah pasti si sopir angkot ini juga akan masuk neraka, soalnya mereka juga pernah menjadi korban”

Namun apa yang terjadi? Dia malah di suruh masuk sorga. Melihat itu, si hakim dan si pendeta protes. “mengapa dia masuk sorga? Padahal selama hidupnya dia membawa angkot dengan ugal-ugalan?” Tuhan menjawab, “betul, selama hidupnya ia membawa angkot dengan ugal-ugalan. Tetapi karena demikian, setiap kali ia membawa angkot, para penumpangnya berdoa semua, menyerahkan diri dan memohon supaya mereka di selamatkan”

Ilustrasi di atas hanyalah sebagai perenungan untuk mengingatkan kita bahwa memang kita akan menghadap takhta pengadilan Kristus. Artinya, kita tidak bisa mengelak bahwa kita akan diadili sesuai dengan perbuatan kita semasa hidup. Apakah yang kita lakukan baik atau jahat.

Bukan berarti kita harus melakukan seperti yang dilakukan sopir angkot itu. Tetapi bagaimana kita hidup sesuai dengan kehendak Allah, apa yang diinginkan Tuhan kita lakukan dalam hidup ini. Yakni memberikan yang terbaik untuk Tuhan, sebagaimana Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12: 1 – 2).

Doa: Ya Tuhan, semua kami tanpa terkecuali akan menghadap takhta  pengadilanMu. Kami akan diadili sesuai dengan tindakan dan perbuatan kami. Oleh karena itu Tuhan, jadikanlah kami dalam hidup ini supaya hidup sesuai dengan kehendakMu dan menjadi pelaku-pelaku FirmanMu. Amin.

Advertisements