Pengkhotbah 6: 1 – 12

“Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pengkhotbah 6: 2)

Ada seorang petani di sebuah desa dengan seorang anak satu-satunya, sementara isterinya sudah tidak ada. Harta satu-satunya adalah seekor kuda. Suatu ketika kudanya ini lepas dan hilang di hutan. Lalu orang-orang berkata: Kasihan ya, sudah duda, anak hanya satu, hartanya hanya satu ekor kuda. Itu pun sudah hilang. Si petani pun menjawab: Kasihan? Semuanya tergantung kehendak Allah.

Suatu ketika, kudanya yang hilang itu kembali, dan anehnya bukan hanya kudanya yang kembali tetapi diikuti oleh beberapa kuda liar, sehingga kudanya menjadi banyak. Lalu orang-orang berkata: Beruntung sekali hidupnya, padahal dia sudah duda, anaknya hanya satu, tetapi kudanya makin bertambah banyak. Lalu si petani menjawab: Beruntung? Semuanya tergantung kehendak Allah.

Karena kudanya sudah banyak, anak satu-satunya ini pun melatih kuda-kuda liar tersebut supaya jinak, nanti kalau sudah jinak, bisa dimanfaatkan untuk bertani. Namun sewaktu melatihnya, dia jatuh dari kuda tersebut dan kakinya pun luka sehingga dia harus istirahat untuk waktu yang lama. Lalu orang-orang pun berkata: Kasihan sekali keluarga itu, sudah duda, anak satu, itu pun kakinya sudah patah, untuk apa mempunyai banyak kuda? Si petani menjawab: Kasihan? Semuanya tergantung kehendak Allah.

Berselang beberapa waktu kemudian, datang pengumuman dari Negara. Semua pemuda yang di kampung tersebut harus berangkat berperang, karena keadaan Negara lagi genting. Musuh sudah menyerang. Tetapi anak petani tersebut tidak ikut, karena kakinya belum sembuh. Sementara anak-anak kita akan pergi memenuhi tugas Negara, dan mereka akan mati dalam peperangan. Lalu orang-orang berkata: Beruntung sekali dia, coba kalau anaknya sehat tentunya dia sudah ikut berperang, dan mungkin ia akan mati di dalam peperangan. Si petani lagi-lagi menjawab: Beruntung? Semuanya tergantung kehendak Allah.

Beruntung tidak beruntung semuanya Allah yang mengatur. “Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia? (Pengkh. 6:12). Tidak lain hanya Tuhan saja. Maka serahkanlah hidupmu hanya kepada Tuhan saja dan Dia akan memeliharanya (1 Pet. 5: 7), dan juga memberikan yang terbaik bagi hidupmu.

Doa: Allah yang mencipta hidup kami, hanya kepadaMu saja kami berserah, dan buatlah hidup kami kuat untuk mampu menjalani segala perkara yang kami hadapi. Amin.