Kejadian 9: 8 – 17

“maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu”
(Kej. 9: 15a)

Allah mengadakan perjanjian kepada Nuh, kepada anak-anaknya, kepada keturunannya, dan kepada seluruh mahluk (Kej. 9:8-10). Perjanjian itu bukanlah seperti musyawarah untuk mengambil mufakat, dan mengeluarkan pernyataan bersama. Bukan begitu perjanjian Allah. Tapi dengan sukarela Allah memberikan kemurahanNya. Perjanjian itu adalah perjanjianNya dan perjanjian itu adalah mutlak dan kekal. Yosua 21: 45 menyebutkan: “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.” Dan juga Yesaya 40: 8 berbunyi: “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”

Allah berjanji “bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kej. 9:11). Hal itu bukan berarti bahwa Allah tidak campur tangan lagi terhadap kehidupan manusia dan segala mahluk, tetapi Allah menjaga dan menilik peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian di tengah-tengah umat manusia (Kej. 18: 21; Mzm. 14:2; 53:3) dan mengambil tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran (Yer. 1:10; 18:7-10; Yeh. 14:2; 21:14-21; Mzm. 46:9-10).

Untuk meyakinkan kita bahwa Allah tidak lagi memusnahkan bumi dengan air bah, Allah menandai perjanjianNya. Menempatkan suatu saksi, suatu tanda peringatan akan sumpahNya, tanda peringatan itu adalah busurNya dan busurNya itu adalah Pelangi (Kej. 9:12-15). Bagaimana kita memahami ini? Ibarat sepasang anak manusia yang bertunangan saling memberi cincin emas sebagai tanda perjanjian. Tanda itu menunjuk pada yang tidak kelihatan. Semua orang dapat melihat cincin emas itu, dan sesudah melihatnya maka mereka akan tahu dan diperingatkan, bahwa orang yang memakai cincin itu sudah bertunangan. Tetapi cincin itu juga menjadi tanda peringatan dan saksi kepada sipemakai: aku telah memberikan janjiku. Aku telah bersumpah setia. Sumpah tidak dapat diubah.

Karena Allah adalah setia dengan janjiNya, tentunya bukan berarti kita hidup dengan semena-mena tanpa takut akan Tuhan. Perjanjian anugerah Tuhan ini adalah kesempatan bagi umat manusia untuk berbakti hanya kepada Tuhan dan menegakkan KerajaanNya di bumi. Perjanjian Allah adalah gencatan senjata Allah terhadap bumi yang jahat ini. Perjanjian dengan perantaraan Nuh ditetapkan demi Yesus Kristus, sehingga bagi siapa yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).

Doa: PerjanjianMu adalah tetap dan kekal untuk selamanya, oleh sebab itu, biarlah kami menjadi orang yang taat kepadaMu sebagai ucapan syukur atas anugerah keselamatan yang Engkau berikan kepada kami. Amin.

Lihat Juga: Warta HKBP Subang, Juli, 4, 2010