Perhatianku dicuri oleh tulisan di Harian Kompas hari ini (Sabtu, 5 Juni 2010), pada kolom Kilasan Kawat Dunia. Di sana diceritakan bahwa di Jakarta sering ada sepasukan batik yang numpang makan di acara pesta perkawinan. Bahkan, rapat umum pemegang saham perusahaan besar di hotel mewah, tidak luput dari serbuan investor gadungan itu. Tujuannya satu, makan gratis.

Di Selandia Baru, sebuah perusahaan yang mengurusi pemakaman berhasil menangkap seorang pelayat palsu. Dalam satu pekan, dia bisa menghadiri empat pemakaman, mengambil makanan, bahkan membungkus serta membawa pulang. Direktur Rumah Pemakaman Harbour City Danny Langstraat mengatakan, lelaki berusia sekitar 40-an tahun itu tertangkap kamera pada berbagai kesempatan berbeda. “Dia membawa ransel dan kotak-kotak Tupperware untuk membawa makanan ke rumah. “Lelaki itu juga sangat sopan dan dia seolah benar-benar menghormati dan mengenal almarhum,” Ujar Langstraat.

Akhirnya pada suatu kesempatan lelaki itu muncul di satu upacara pemakaman. Dia diperingatkan oleh salah seorang petugas bahwa dia boleh hadir dalam upacara pemakaman, tetapi tidak boleh membawa pulang makanan. Direktur Asosiasi Rumah Pemakaman Selandia Baru Tony Garing mengatakan, sangat sulit menghindari orang yang hanya numpang makan pada upacara pemakaman karena biasanya acara tersebut merupakan acara terbuka.

Anehnya, setelah membaca berita di atas saya teringat masa lalu, sewaktu mahasiswa di Pematang Siantar. Mengapa tidak pengalaman seperti ini pernah saya alami, alias numpang makan. Kalau sudah bulan tua (kiriman dari kampung udah abis), kita mencari apa ada pesta perkawinan di Sopo Godang. Jadilah kita berpakaian rapi, berprofesi sebagai tamu undangan, he..he.. sebenarnya, hanya numpang makan…

Untunglah pada waktu itu, tidak ada acara sweeping dari tuan rumah, bisa malu saya… he..he..