Seorang raja yang gemar berburu pergi ke hutan dengan pasukannya. Entah kenapa jari kelingkingnya putus oleh pisau yang tajam. Penasehat mencoba menghibur baginda tetapi baginda tetap merasa sedih. Lalu penasehat berkata: “Baiklah baginda bersyukur akan hal ini.” Raja marah: “Sudah jari sakit dipotong, masih bilang bersyukur, penasehat apa kamu?” Lalu ia memanggil penjaga dan memenjarakan penasehat dengan lamanya kurungan tiga tahun penjara.

Satu bulan kemudian, oleh karena kegemaran raja untuk berburu, ia lalu berangkat lagi dengan pengawalnya beserta penasehat barunya. Entah kenapa pula mereka tersesat di hutan dan tertangkap oleh suku primitif beserta penasehat dan beberapa pengawalnya untuk dijadikan sebagai persembahan kepada dewa yang disembah oleh suku primitif itu.

Mereka harus dibersihkan sebelum dipersembahkan lalu mereka dimandikan. Tiba giliran raja dibersihkan mereka melepaskannya karena jari kelingkingnya sudah putus alias cacat dan menurut suku primitif itu tidak layak menjadi persembahan kepada dewanya.

Sampai di istana ia memerintahkan para pengawalnya untuk melepaskan mantan penasehatnya. Kemudian ia meminta maaf kepada penasehatnya yang terlanjur dipenjarakannya itu. Baginda berkata: “Kamu adalah pensehat yang benar dan bijaksana, benar apa yang kamu katakan supaya kita selalu bersyukur.”

Saya harus bersyukur karena jari kelingkingku putus, sehingga saya boleh selamat dari suku primitif itu dan lalu menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dan bagaimana ia bisa lepas dari maut tersebut.

Setelah raja selesai menceritakan kisahnya, Penasehat juga berkata: “Saya juga bersyukur baginda memenjarakan saya, karena bila tidak saya juga mungkin sudah dipersembahkan oleh orang-orang primitif itu kepada dewanya.”

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”  I Tesalonika  5:18