Epesus 1: 5 – 6

Ditodo hian do hita bahen anakna, marhitehite Jesus Kristus, asa tu Ibana, mangihuthon halomoan ni rohana, asa tarpuji asi ni rohana na marmulia i, na niasihonna tu hita di bagasan na Hinaholonganna i.

Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Semasa anak-anak dulu saya pernah punya banyak angan-angan. Diantara angan-angan itu saya sangat ingin menjadi anak orang kaya. Karena dengan menjadi anak orang kaya saya merasa bahwa segala kebutuhan saya akan bisa terpenuhi. Mau minta sesuatu pasti selalu terpenuhi karena saya adalah anak orang kaya.

Saya juga pernah berangan-angan seandainya saya menjadi anak pejabat seperti anak jenderal. Wah enak sekali. Saya bisa punya pistol, bisa menakut-nakuti orang. Semua anak-anak akan tunduk kepada perintahku. Semua memang mengasyikkan, yang pada intinya adalah bahwa saya ingin menjadi pusat perhatian. Tapi kalau disadari apa untungnya? Karena segala sesuatunya akan berlalu dan hal-hal itu hanya bersifat sesaat.

Berbeda kalau kita menjadi anak Tuhan. Apalagi dikatakan dalam renungan ini bahwa sebenarnya dari semula kita sudah ditentukan menjadi anak-anakNya. Menjadi anak Tuhan berarti kita sudah ikut dalam warisan yang dijanjikanNya, yaitu keselamatan. Hal itu semuanya dilakukanNya adalah karena kasihNya yang sangat dalam. Oleh karena kasihNya yang dari semula maka Allah juga telah merelakan Anak-Nya untuk keselamatan kita. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)

Oleh karena itu, kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada kita patut kita syukuri. Oleh karena itu kita harus mengasihi Allah karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita. Dengan mengasihi Allah berarti kita juga harus memegang perintahNya. Seperti apa yang difirmankanNya: “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yohanes 14: 21). Mengasihi Allah juga berarti mengasihi sesama kita (Matius 22: 36 – 14). Akhirnya, sebagi anak-anak Tuhan sepatutnya kita mengasihi lebih sungguh.

Doa: Terima kasih Tuhan. Oleh karena kasihMu Engkau telah menjadikan kami anak-anakMu. Oleh karena itu, sebagai anak Tuhan, ajari kami untuk mengasihi lebih sungguh lagi. Amin.