Di sebuah desa ada seorang yang gila (hurang roha). Semua orang pada takut kepadanya karena orang gila tersebut sering mengganggu orang. Kalau ada orang lewat di depannya misalnya ia lalu mengejarnya. Atau sering juga ia melempari orang tanpa sebab sehingga orang-orang sekampung takut bertemu dengan dia. Tapi walau demikian ia pandai penyanyi yang hebat dan banyak lagu ia ketahui. Kalau ia menyanyi, tidak nampak bahwa ia adalah seorang yang gila.

Untuk mengatasi semua kegilaan yang ia perbuat lalu orang-orang di kampung lalu membawanya ke rumah sakit jiwa untuk diobati. Setahun kemudian dokter memperbolehkannya pulang ke rumah karena sudah dianggap sembuh.

Di saat pulangnya ke rumahnya yang juga kampung halamannya ada pesta pernikahan yang diramaikan dengan sebuah group music. Berhubung mantan orang gila ini sangat suka menyanyi lalu ia tampil ke depan untuk bernyanyi. Orang pun pada bersorak melihat dia sudah sembuh dan akan menyanyi.

Sambil berbisik kepada pemain gitar ia tersenyum kepada para penonton. Bisikan itu sepertinya untuk menentukan kunci nada yang sesuai untuknya. Setelah dapat kunci nada yang sesuai baginya,  mantan orang gila itu pun menyanyikan sebuah lagu. Lalu ia pun menyanyi: “Aku masih seperti yang dulu…”

Tapi apa yang terjadi? Sebelum syair dari lagu tersebut berlanjut, semua orang pada berlarian meninggalkan mantan orang gila itu menyanyi. Melihat kejadian tersebut timbul pertanyaan, mengapa mereka berlarian? Ternyata mereka semua mengira si mantan orang gila itu belum sembuh dari kegilaannya karena ia menyanyi “Aku masih seperti yang dulu” Semua pada takut. Takut ia mengamuk lagi…