Sekilas kalimat “Kebaktian Sore Berbahasa Indonesia” adalah kalimat yang umum dan merupakan hal biasa dilakukan di gereja-gereja yang berbahasa daerah. Namun bagi kami di HKBP Subang adalah hal yang luar biasa. Mengapa tidak selama ini memang di HKBP Subang selalu diadakan kebaktian berbahasa Indonesia satu kali dalam satu bulan pada minggu ketika. Anehnya, setiap kebaktian berbahasa Indonesia banyak jemaat yang tidak datang menghadiri kebaktian minggu. Saya lalu menanyakan kepada parhalado akan hal ini. Jawabnya banyak jemaat yang tidak mengerti atau kurang berminat dengan kebaktian tersebut.

Hal ini boleh dimaklumi karena jemaat banyak yang datang langsung merantau ke Subang dari kampung halaman atau dengan bahasa yang umum sering disebut “BTL” (Batak Tembak Langsung). Hal ini yang membuat kebaktian bahasa Indonesia itu kurang diminati. Mereka juga bukan hanya orang tua atau yang sudah berkeluarga, bahkan naposobulung (pemudanya) juga banyak yang tidak berminat dengan kebaktian berbahasa Indonesia.

Pada saat yang sama jemaat juga sudah banyak yang tidak mengerti berbahasa Batak terutama yang remaja dan pemuda yang sudah lahir di perantauan. Melihat “keprihatinan” ini maka pada Rapat Huria yang lalu telah ditetapkan supaya diadakan kebaktian sore berbahasa Indonesia. Jadilah pada hari Minggu, 21 Pebruari 2010 diadakan kebaktian perdana.

Kebaktian ini agak berbeda dengan kebaktian berbahasa Indonesia yang umumnya lagunya diambil dari kidung jemaat saja. Tapi ini nyanyian-nyanyiannya di ambil dari beberapa pop rohani, kidung pujian remaja dan juga dari buku ende. Semuanya bertujuan untuk membuat ibadah lebih hidup. Petugas yang terlibat di dalam kebaktian lebih melibatkan para remaja dan pemuda.

Saya mengharapkan kebaktian ini akan bisa menjawab permintaan para remaja dan pemuda selama ini, yakni “mereka menginginkan kebaktian yang dapat mereka mengerti”. Dengan adanya kebaktian bahasa Indonesia ini paling tidak salah satu telah terjawab.