Imamat 25: 1 – 7

Pemahaman tentang Sabat sering diartikan sebagai hari istirahat. Di mana kita bekerja enam hari lamanya dan pada hari yang ke tujuh kita beristirahat supaya ketika kita memulai hari selanjutnya pada minggu berikutnya kita bekerja lebih optimal lagi. Pemahaman seperti ini adalah adalah untuk kepentingan diri atau demi optimalnya pekerjaan seseorang.

Sabat juga dipahami sebagai hari peristirahatan untuk mengkhususkan diri bagi Tuhan. Sebab manusia sudah bekerja selama enam hari dan hari-hari itu tidak lepas dari peranan Tuhan yang menyertai kita dalam setiap hari-hari itu. Untuk itu kita patut mengkhususkan diri untuk Tuhan sebagai ucapan syukur atas penyertaanNa.

Namun sangat menarik dalam renungan ini, kita diperkenalkan dengan “sabat bagi Tuhan”. Sabat bagi Tuhan dimaksud di sini adalah dalam rangka pengistirahatan Tanah Perjanjian yang akan diberikan Tuhan kepada umatNya karena Tuhan punya rencana khusus dalam rangka pengistirahatan itu. Sebagaimana tertulis dalam ayat 2: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN.”

Apa yang dilakukan dalam tahun sabat? Selama enam tahun bangsa Israel diperintahkan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Dari sana kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita harus bekerja keras pada enam hari atau enam tahun dan pada hari ke tujuh atau tahun ke tujuh adalah sabat bagi Tuhan. Kerja keras dalam konteks renungan kita adalah menaburi ladang, merantingi kebun anggur dan mengumpulkan hasil tanah (ay. 3), namun pada tahun ke tujuh tanah harus berhenti total, tidak ditaburi benih dan tidak dirantingi (ay. 4), dan apa yang dihasilkan oleh tanah yang tidak ditabur dan tidak dirantingi, itulah untuk manusia, bagi budak, bagi ternak dan semua yang membutuhkan (ay. 5-7).

Orang akan bertanya, apa yang akan kita makan pada tahun sabat, apakah cukup? Bagaimana dengan tahun ke delapan ketika mulai menabur dan merantingi, apa yang akan dikonsumsi?

Bagi ilmu pertanian tanah yang diolah terus menerus tanpa istirahat tidak lebih baik hasilnya dari tanah yang diistarahatkan pada tahun ke tujuh setelah diolah selama enam tahun. Namun bukan itu tujuan kita melakukan sabat bagi Tuhan. Bukan karena tanah akan semakin lebih baik diistirahatkan satu tahun setelah diolah selama enam tahun. Tetapi oleh karena perintah Tuhan.

Untuk menjawab keraguan kita tentang apa yang akan kita makan kalau kita melakukan sabat bagi Tuhan adalah dalam ayat 20 – 22: “Apabila kamu bertanya: Apakah yang akan kami makan dalam tahun yang ketujuh itu, bukankah kami tidak boleh menabur dan tidak boleh mengumpulkan hasil tanah kami? Maka Aku akan memerintahkan berkat-Ku kepadamu dalam tahun yang keenam, supaya diberinya hasil untuk tiga tahun. Dalam tahun yang kedelapan kamu akan menabur, tetapi kamu akan makan dari hasil yang lama sampai kepada tahun yang kesembilan, sampai masuk hasilnya, kamu akan memakan yang lama.”

Sehingga kita dapat mengatakan bahwa kabahagiaan manusia tidak terletak pada pekerjaan dan kerja keras manusia untuk menghasilkan sesuatu dengan kerja keras. Enam hari kerja penuh adalah panggilan manusia, tetapi hari ke tujuh adalah hari yang perlu pengkhususan yang juga merupakan panggilan kita.

Pertanyaan kita sekarang adalah apakah kita percaya akan firman Tuhan? Apakah kita percaya kalau Tuhan akan memerintahkan berkatNya yang melimpah turun atas orang yang percaya dan menuruti perintahNya?

Oleh karena itu bekerjalah dengan sungguh-sungguh dan kita juga akan taat dengan perintah Tuhan yaitu mentaati sabat dalam rangka kesediaan mendengarkan perintah Tuhan dan lihatlah orang yang taat akan perintah Tuhan akan melihat dan mengalami bagaimana Tuhan memelihara kita.

Doa:

Ya Tuhan, ajari kami agar lebih setia dalam melaksanakan perintahMu terlebih untuk menaati sabat bagiMu sebagai eujud ketaatan kami kepadaMu. Amin.