1 Korintus 12: 12 – 27

SISS_001Kami adalah keluarga besar yang terdiri sembilan bersaudara. Tujuh laki-laki dan dua perempuan. Saya masih ingat kami sebagai anak mempunyai tugas masing-masing yang sudah di atur. Misalnya tugas saya adalah menyuci piring, tugas abang saya memberi makan ternak, tugas yang lainnya memasak. Pembagian tugas itu menjadikan setiap pekerjaan di rumah bisa selesai dengan baik. Walaupun saya pergi bermain dengan teman-teman saya, namun tugas yang satu itu pasti sudah saya bereskan dulu. Tapi ketika saya tidak mengerjakan pekerjaan saya, apa yang terjadi? Terjadilah pertengkaran bahkan perkelahian, dan akibatnya terjadilah kekacauan.

Dalam kasus yang berbeda: Biasanya karena kami keluarga besar maka orang tua saya selalu membagi nasi kami satu piring untuk satu orang. Saya adalah yang paling bungsu, dan biasanya saya yang lebih dulu pulang sekolah. Akibat lapar yang tidak tertahankan satu piring tentunya tidak cukup, lalu saya mengambil sedikit dari piring yang lain sebab menurut saya tidak ketahuan. Tapi rupanya abang yang di atas saya juga demikian, ia juga mengambil sedikit dari piring yang lain. Sehingga siapa yang pulang terakhir tidak kebagian lagi. Terjadilah peperangan dan saling menuduh. Akibat mengutamakan diri sendiri lalu yang lain menjadi korban.

Saya jadi teringat ketika di asrama dulu. Biasanya setiap meja telah dipersiapkan untuk sepuluh orang. Tetapi karena ada seorang atau dua orang yang makan terlalu banyak sehingga kalau ada teman yang terlambat datang, sudah tidak kebagian lagi. Saya punya kesimpulan: kenapa terjadi kelaparan? Karena ada sedikit orang makan terlalu banyak. Itu sama dengan mengutamakan diri sendiri tanpa perduli dengan orang lain.

Di jemaat Korintus telah terjadi perpecahan oleh karena sebagian mengatakan mereka adalah murid Apollos, ada yang mengatakan dia adalah murid Kepas (1 Kor. 12: 4 – 6). Sehingga jemaat itu sudah seperti partai, tidak lagi satu sebagai pengikut Kristus. Dan lagi perpecahan itu juga terjadi oleh karena pemahaman yang salah tentang pemberian Roh Kudus. Setiap orang yang dipenuhi Roh Kudus menerima pemberian Roh Kudus dan Roh Kuduslah yang menata pemberian Roh Kudus itu sesuai dengan kehendakNya. Kepada yang satu diberikan karunia pengetahuan, kepada yang satu diberikan iman, kepada yang lainnya karunia untuk menyembuhkan, mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan macam-macam roh, berbahasa roh, menafsirkan bahasa roh (1 Kor. 12: 1 – 11). Tetapi mereka mengutamakan diri sendiri dan menjadi tinggi hati akibat pemberian karunia itu. Mereka merasa karunia yang ada padanya adalah lebih baik dari apa yang diterima oleh orang lain. Itulah penyebab perpecahan di jemaat Korintus.

Padahal kita adalah tubuh Kristus, sebagai tubuh Kristus kita harus saling memperlengkapi. Seperti tubuh manusia adalah satu tetapi beragam organ tubuh itu, berbeda fungsinya pula. Ada mata, kuping, lidah, tangan, hidung, mulut dan yang lainnya. Tetapi walau berbeda tapi satu perasaan. Justru karena perbedaan fungsi itulah terjadi kesempurnaan, yakni saling memperlengkapi. Setiap organ tidak bisa berdiri sendiri. Itulah maka Paulus mengatakan, kuping tidak boleh mengatakan bahwa ia tidak bagian dari tubuh atau tidak membutuhkan yang lain. Kalau semua menjadi mata, siapakah yang menjadi kuping? Allah menciptakan organ yang berbeda supaya melalui keberbedaan itu terjadi saling memperlengkapi.

Setiap kita berbeda, ada kelebihan dan ada kekurangan. Keadaan seperti itu membuat kita untuk satu di dalam perasaan, satu hati dan satu pikiran, sebab semua itu kita terima dari Roh yang sama sehingga tugas kitalah untuk mengusahakan kesatuan yang dipersatukan oleh kasih (Efesus 4:3). Jangan saling menghina oleh karena perbedaan pemberian karunia dari Tuhan, bukan untuk memicu perpecahan. Sebaliknya kita memahaminya sebagai kekayaan orang yang percaya kepada Kristus. Karena keberagaman yang kita terima dari Tuhan menjadi sempurna kalau kita mau saling memberi, saling membantu melalui karunia yang berbeda itu. Intinya sekali lagi saling memperlengkapi.

Doa:

Ya, Tuhan berilah kami kekuatan untuk saling memperlengkapi sebagai wujud keberimanan kami kepadaMu. Jauhkanlah perpecahan dari kami, berikanlah Roh yang mempersatukan kami walau kami berbeda-beda tetapi satu di dalam Kristus.