Yesaya 41: 14 – 20

SISS_129Kenangan saya masa kanak-kanak tentang ketakutan terungkap kembali oleh karena renungan ini. Saya masih ingat bahwa saya sangat takut dengan kegelapan atau pun tempat yang nggak ada orang. Sehingga kalau disuruh ke dapur misalnya untuk mengambil sesuatu saya hanya menjawab: “Nggak mau, takut”. Tapi papa saya memang luar biasa. Dia mengatakan, “jangan takut nak, bilang saja begini dengan keras: “Dalam Nama Tuhan Yesus, pergilah kau iblis” , dan bagi saya kalimat ini luar biasa menguatkan sehingga ke mana saja dan di mana saya merasa takut saya selalu bilang, “Dalam Nama Tuhan Yesus, pergilah kau iblis.”

Pengalaman lain adalah sewaktu melayani di daerah pedesaan. Beberapa orang selalu mengatakan kepada saya. “amang, jangan pergi ke rumah si anu itu. Dia itu mau meracuni orang atau mengguna-gunai orang, nanti amang kena racun lho”. Ada juga perasaan ragu, tapi ketika saya pergi ke rumah orang yang dimaksud dan makan di sana, tidak terjadi apa-apa.

Ketakutan bisa saja menghinggapi setiap orang. Ada orang takut karena persoalan ekonomi keluarga, kehidupan rumah tangga yang tidak sehat. Karena masalah anak, masalah politik. Persoalan bangsa, keadaan lingkungan yang tidak baik, dan lain sebagainya. Seakan Tuhan tidak bekerja dan tidak menyertai kehidupan kita.

Boleh kita maklumi bagaimana ketakutan orang-orang Israel dalam pembuangan dalam renungan ini. Mereka takut oleh karena kejamnya kehidupan di tengah-tengah pembuangan. Hak mereka untuk hidup sebagai manusia merdeka dirampas oleh orang Babel. Mereka takut karena sudah kehilangan keyakinan. Oleh karena itu juga lahirlah pemikiran mereka bahwa Tuhan tidak mampu membebaskan dan menolong.

Dalam keadaan seperti itulah Tuhan berkata: “Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel.” (ay.14) Ungkapan cacing dan ulat dapat diartikan sebagai kecil dan lemah dan tidak berarti tanpa Tuhan (bnd. Mzm. 22:7). Namun selemah apa pun, sekecil apa pun, kalau bersama Tuhan kalau percaya pada Tuhan ada jaminan, ada masa depan, ada jaminan kelepasan dan keselamatan.

Untuk itu kita harus tergantung kepada Tuhan karena hanya orang yang mengandalkan ketergantungan kepada Tuhan mampu lepas dari rasa ketakutan dan percaya bahwa Tuhan mampu menolongnya di setiap pergumulan hidupnya. Ketergantungan itu ibarat ikan di dalam air. Seekor ikan tidak akan bisa hidup tanpa air. Ketergantungan itu juga ditunjukkan dengan kehausan akan firman Tuhan, sebab firman Tuhanlah yang mampu membuat kita kuat, yakin dan percaya bahwa Tuhan mampu menolong kita.

Pertolongan Tuhan nyata dalam hidup kita. Tuhan berkata bahwa sesungguhnya, Ia membuat kita menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar. Baik gunung dan bukit sanggup dihancurkan dan dijadikan sekam, menampinya lalu menerbangkankan dan badai akan menerbangkannya (ay. 15-16). Artinya, pertolongan Tuhan itu akan memampukan mengalahkan sebesar apa dan sekuat apa pun pergumulan yang kita hadapi. Kalau pargumulan itu sebesar gunung dan bukit, itu akan mampu kita hancurkan seperti sekam dan lalu ditiup angin. Oleh karena itu jangan takut, sebaliknya bersorak-sorak dan bermegahlah di dalam Tuhan (ay.16).

Kalau hidup kita seperti orang miskin yang sengsara dan untuk mencari air memenuhi kebutuhan hidup pun susah? Tuhan akan menjawab dan tidak akan meninggalkan kita (ay.17). Allah berkata: “Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya,” (ay.18-19).

Pertanyaan kita sekarang. Mungkinkan sungai memancari di atas bukit gundul? Mungkinkah mata air membual di tengah dataran? Mungkinkan padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air daritanah kering? Mungkinkah pepohonan tumbuh di padang gurun? Jawaban saya mungkin. Sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk. 1: 37). Apa yang kita pikirkan tidak mungkin tapi itu mungkin bagi Allah. Apa yang tidak bisa kita lakukan tapi Allah bisa melakukannya bagi kita. Karena kasih Allah kepada kita melebihi apa pun.

Sekali lagi, sesulit apa dan sebesar apa pun pergumulan kita Tuhan mampu menolong kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Dan itu dimungkinkah kalau kita melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya (ay.20).

Doa:

Ya, Tuhan, ada banyak hal dalam perjalanan hidup ini yang membuat kami mengalami ketakutan. Dan oleh karena ketakutan juga membuat kami ragu akan pertolonganMu. Sekarang Tuhan aku percaya bahwa Engkaulah yang mampu menolong, membebaskan, dan membuat kami memenangkan segala pergumulan hidup kami. Amin.