0605065LTadi siang setelah sermon Pendeta di HKBP Surabaya saya bermaksud pulang namun setelah sampai di tempat parkir sepeda motor saya melihat ban belakang sepeda motor saya kempes alias bocor. Lalu saya membawanya ke tempat tempel ban. Sampai di sana sudah banyak yang antri menunggu sepeda motornya di perbaiki.

Menunggu ban sepeda motor saya diperbaiki, saya duduk sambil memperhatikan bapak yang punya bengkel itu bekerja. Bapak itu sudah tua dan ia bekerja sendirian. Saya perhatikan bapak itu bekerja dengan telaten dan tidak asal pasang walaupun banyak yang datang untuk memperbaiki sepeda motornya.

Lebih mencuri perhatian saya adalah ada seorang anak kecil memperbaiki sepeda dayung. Setelah selesai mengerjakan sepedanya anak itu menanyakan berapa biayanya. Bapak itu mengatakan biayanya empat ribu rupiah. Muka anak itu langsung lain saya lihat seperti orang yang agak takut, dan benarlah dugaan saya karena uangnya hanya dua ribu. Lalu ia memohon, pak uang saya hanya dua ribu bagaimana ini? Bapak tukang bengkel itu hanya menjawab, nggak apa-apa sini uangnya.

Saya melihat dialog itu begitu menarik, terlihat betapa baiknya bapak itu. Tidak memaksakan harga yang dia buat. Kebaikan bapak itu telah memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. ”Masih ada kebaikan terpancar dari bapak itu walaupun kalau diperhatikan dia juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya”

Tibalah giliran saya untuk membayar biaya mengganti menempel ban sepeda motor saya yang bocor. Saya tanya: ”pak, berapa biayanya?” bapak itu menjawab: ”lima ribu rupiah” saya pun merogoh kantong saya. Tapi yang membuat muka saya pucat adalah uang di kantong saya hanya empat ribu enam ratus rupiah. Semua isi kantong udah saya keluarkan, dan saya pun tanpa sadar jadi terkejut dengan sangat. Bagaimana ini? Malu rasanya karena saya tidak memperhatikan isi kantong saya sebelum berangkat ke bengkel tadi. Saya hanya berkata: ”pak gimana ini? Uang saya hanya segini” (sambil menunjukkan uang saya yang hanya empat ribu enam ratus rupiah).

Bapak itu hanya tersenyum sambil menjawab: ”Nggak apa-apa”