Keluaran 32: 9 – 14

PMDCG031

Lagi firman TUHAN kepada Musa: “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.  (Keluaran 32: 9)

Murka Tuhan akan datang kepada bangsa Israel karena mereka sesungguhnya adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk (keras kepala dan tidak taat). Mengapa? Sesaat saja Musa meninggalkan mereka naik ke gunung untuk bertemu dengan Tuhan, mereka sudah tidak sabar.  Mereka berkumpul dan mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir — kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.” (Kel. 32:1). Mereka meragukan dan bahkan menghina Musa dan lalu dengan inisiatif sendiri membuat anak lembu tuangan sebagai allah bagi mereka (Kel. 32: 2-4).

Tegar tengkuk-nya mereka sebenarnya bukan hanya pada saat Musa meninggalkan mereka. Hal itu sudah sering terjadi di dalam perjalanan mereka di gurun pasir. Misalnya di Mara, tidak ada air yang dapat diminum karena airnya pahit, tidak sabar lalu mereka bersungut-sungut kepada Musa, lalu Tuhan menjadikan air yang pahit menjadi manis (Keluaran 15). Juga di Elim, mereka juga bersungut-sungut karena ketiadaan makanan, lalu Tuhan menurunkan manna untuk memenuhi kebutuhan mereka (Keluaran 16). Dan banyak lagi kejadian lain selama di padang gurun sampai pada saat Musa pergi ke gunung untuk bertemu dengan Tuhan.

Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada kesabaran dan ketekunan mereka. Maunya apa saja yang mereka minta sesegera mungkin dapat terwujud. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak dewasa di dalam beriman. Sama seperti kita yang sering tidak sabaran lalu karena ketidaksabaran ini kita tergoda untuk meninggalkan Tuhan, mencari kekuatan lain yang  mungkin kita anggap bisa menjawab pergumulan kita. Ketidaksebaran itu membuat kita jatuh kepada hidup seperti  mengutamakan kekayaan daripada mengikut Yesus (Lukas 18:18-27), mempertaruhkan keamanan sendiri (26:33), korupsi, dan berbagai perselingkuhan kepada kekuatan dunia ini.  Oleh karenanya Tuhan murka. Murka terhadap dosa dan perlakuan yang tidak benar di hadapanNya (Roma 1:18), dan tentu murkaNya bertujuan untuk merubah kelakuan dan bertobat (Roma 2:4-5).

Kesabaran dan ketaatan tidak akan pernah siasia. Monnica, ibu Augustinus teolog yang terkenal itu adalah gambaran orang yang bertekun di dalam doa. Setiap malam ia selalu berdoa kepada Tuhan mendoakan Augustinus anaknya yang hidup di dalam kejahatan. Sejak umur 16 tahun sudah melakukan perselingkuhan, umur 19 meninggalkan Tuhan dan mengikuti ajaran sesat semakin membuat ibunya menderita. Karena tingkah laku anaknya, suatu ketika Monnica menjumpai seorang Uskup. Uskup ini berkata, “Seorang anak yang begitu banyak didoakan dengan air mata, mustahil akan binasa”. Dan benarlah apa yang dikatakan Uskup itu, setelah Augustinus berumur 33 tahun, ia bertobat dan dibaptis. Ini yang membuat Monnica bersukacita. Terakhir Augustinus menjadi Uskup dan teolog terkemuka. Itulah kekuatan doa.  Selama 14 tahun Monnica mendoakan Augustinus kepada Tuhan, penuh kesabaran dan ketaatan, dan Tuhan mendengarkan doanya.

Berdoa tentunya bukan hanya untuk apa yang perlu bagi kita tetapi mendoakan orang lain(doa syafaat) juga menjadi bahagian penting dari hidup kita. Itu yang dilakukan Musa ketika Tuhan akan menghukum bangsa Israel. Musa tidak mencari keuntungan sendiri tetapi dengan kerendahan membela bangsa itu dengan pengharapan akan kemurahan dan kasih Tuhan. Dia memaparkan empat hal kenapa dia berdoa syafaat kepada Tuhan: pertama, mereka adalah Umat Tuhan, umat yang dipilihNya sejak semula; kedua, Pelepasan mereka dari perbudakan di Mesir dilaksanakan dengan kuasa yang luar biasa; ketiga, Orang Mesir akan mengolok-olok Tuhan; keempat, Tuhan sudah bersumpah kepada para Bapa Leluhur bahwa Dia akan memberikan keturunan serta tanah kepada mereka. Dengan empat alasan tersebut Musa memohon kepada Tuhan, “Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu” (Marpangulahi ma roham sian parpiarpiar ni rimasmu, sai marpamuati ma roham taringot tu jea na naeng pasonggoponmu tu bangsom, Kel. 32:12).

Berdoa hanya untuk kepentingan diri sendiri adalah seperti anak-anak yang hanya melihat kepentingannya sendiri. Semakin dewasa iman seiring dengan itu kemauan untuk mendoakan orang lain (syafaat) menjadi sangat penting. Berdoa syafaat menunjukkan tanggungjawab terhadap orang lain. Berdoa syafaat berarti membuka mata bagi penderitaan dan kesusahan orang lain. Karena itu selalulah berdoa, seperti firman Tuhan katakan: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b)

Doa:

Ya Kristus, Ajarlah dan bimbinglah kami supaya kami bertekun dan taat kepadaMu. Jangan biarkan kami jatuh dalam keputusasaan ketika berbagai pencobaan datang kepada kami. Pakailah kami supaya kami juga Tuhan pakai menjadi alatMu di dunia ini dan bukakanlah hati kami supaya kami mau saling dengar-dengaran satu sama lain dan mewujudkan kasihMu di dalam hidup ini. Amin.