1 Tawarikh 16: 7 – 12

SISS_024Saya adalah penggemar beberapa penyanyi dan salah satunya adalah Iwan Fals karena saya merasa nada dan lirik yang dibawakannya menurut saya mengingatkan banyak hal tentang kehidupan. Saya sangat suka dengan klasik, dan saya juga senang memainkan berbagai jenis musik tiup Trompet dan Sexaphone. Orang lain mungkin punya penggemar dan kegemaran lain dalam musik atau pun nyanyian. Kenapa bisa demikian? Tentu ada alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya jelas bahwa nyanyian bisa menyentuh hati yang terdalam akan sesuatu hal. Misalnya lagu dengan judul “Uju di Ngolungkon”. Saya suka lagu ini karena ia mengandung nilai tentang pesan orangtua kepada anak untuk menghormatinya selagi masih hidup, jangan setelah meninggal sebab tidak ada gunanya. Sebaliknya banyak juga nyanyian yang justru mengajak kita untuk melecehkan orang lain, keputusasaan, dan lain-lain, dan sepatutnya kita perlu mengkritisinya jangan asal menyanyikan.

Lepas dari semua itu, ada satu ajakan untuk menyanyikan sebuah nyanyian baru dan nyanyian itu bukan untuk kita tetapi bagi Tuhan. Nyanyian baru itu bukanlah lagu baru atau pun yang lagu yang masuk dalam tangga teratas rentetan pilihan penggemar. Namun lebih pada semangat baru dan pemahaman baru karena Kristus telah menang mengalahkan kematian, karena Kristus telah menyelamatkan kita, karena didorong oleh iman dan ketaatan kepada Tuhan.

Tabut Perjanjian telah kembali ke kemah Yerusalem. Kehadiran Tabut Perjanjian dipahami sebagai tanda kehadiran Allah di tengah-tengah mereka. Karena Allah hadir di tengah-tengah mereka maka itu patut disyukuri dengan menyanyikan nyanyian syukur bagi Tuhan, syukur atas segala perbuatan Allah yang menyertai, melindungi, membebaskan, dan menyelamatkan mereka dari segala rintangan hidup (ay.7). Perbuatan ajaib dari Allah itu bukan hanya kepada bangsa Israel, tetapi juga kepada seluruh dunia, karenanya harus diperkenalkan kepada seluruh bangsa supaya mereka juga diselamatkan (8). Melalui pemahaman itu kita diingatkan untuk mensyukuri penyertaan Tuhan. Lalu kenapa kita sering lupa mengucap syukur atas penyertaan Tuhan dalam hidup ini? Apa yang menyebabkan itu bisa saja karena kita merasa bahwa mengucap syukur itu bukanlah suatu kewajiban. Padahal Allah telah memberikan anugerahNya melalui penyertaan dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita.

Melalui nyanyian baru itu kita juga di ajak untuk selalu mencari Allah dan kekuatanNya (ay.11). Tujuannya adalah supaya kita tidak mencari kekuatan lain di dunia ini selain Allah karena tidak ada yang bisa mengatasiNya. Memang ketika ada kesusahan bisa membuat orang berbalik dari Tuhan, namun satu hal yang harus kita percayai bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk. 1:37), itulah yang kita yakini. Oleh karena itu ketika ada penderitaan, kesusahan, dan kesesakan jangan pergi ke yang lain. Allah ada di tengah-tengah kita dan diam bersama kita untuk melindungi kita dari segala mara bahaya yang menerjang.

Satu lagi yang tidak bisa kita lupakan adalah untuk selalu membicarakan (marnonangi) perbuatan Tuhan (ay.9). Sehabis makan biasanya orang tua selalu membicarakan perbuatan Tuhan dalam keluarga itu, hal itulah yang semestinya kita lakukan, yakni membicarakan (bersaksi) tentang perbuatan Tuhan dalam hidup ini. Jadi bukan hanya di dalam ibadah saja orang-orang membicarakan perbuatan Tuhan melainkan di segala waktu, tempat, keadaan, semuanya kita pakai untuk bersaksi tentang perbuatan Tuhan.

Doa:

Ya Tuhan ajarlah kami supaya kami selalu menyanyikan perbuatanMu dalam hidup kami. Nyanyian kami itu hendaklah juga di wujudkan di dalam tingkah dan laku kami sehingga bukan hanya mulut kami yang menyanyi tetapi juga dengan perbuatan kami. Amin.