nothr005Saya sudah pernah cerita tentang sintua Ritonga pada postingan saya yang berjudul “Minggu  Ini Banyak Yang Sakit”. Sebagaimana saya sebutkan bahwa amang itu menderita Kanker Paru Stadium Empat dan di rawat di Rumah Sakit TNI-Al Mintoharjo-Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya memang saya selalu berkomunikasi dengan amang ini melalui telepon, tapi saya merasa ada yang kurang. Kerinduan saya berjumpa dengan amang Ritonga membuat saya mengambil keputusan saya harus berangkat ke Jakarta menemui amang itu.

Hari Senin malam pukul 15.30 WIB saya naik Kereta Api dan pukul 07.30-an Kereta Api sampai di Jakarta dan langsung ke Rumah Sakit TNI-AL Mintoharjo. Sampai di sana saya langsung memeluk amang itu, dan jujur saja kami sama-sama menangis. Apa yang saya lihat sungguh jauh dari apa yang saya pikirkan. Rambutnya sudah memutih semua, badannya kurus kering, kakinya tidak bisa digerakkan, nafasnya sesak dan cepat sekali capek. Apa saja keperluan amang itu harus di tempat tidur, makan, minum, mandi, dan maaf buang air besar dan kecil semuanya di tempat tidur. Saya menangis karena tidak tahan melihat kondisi amang itu.

Amang Ritonga berumur 52 tahun tepat hari Sabtu, Tanggal 25 April 2009 yang lalu dan secara sederhana telah mengadakan acara Kebaktian syukuran Ulang Tahun. Saya tahu karena kami yang mambawakan doa melalui telepon. Isteri boru Hasibuan, Anak tiga orang, yang paling besar perempuan Nancy sudah bekerja, yang kedua laki-laki, Ucok masih menyusun sikripsi, dan yang ketiga laki-laki Lando mau melanjut ke SMA.

Apakah yang harus saya lakukan selama delapan jam ini? Soalnya sore pukul 18.00 WIB saya harus pulang ke Surabaya. Untuk itu, saya dan amang Ritonga banyak bercerita, sekalian juga saya memberi penguatan melalui Firman Tuhan, dan menyanyi beberapa lagu dari Buku Ende. Sesekali saya keluar dari ruanganan dan di luar, jujur saja saya menangis tidak tahan melihat keadaannya yang menurut ukuran saya tidak mungkin di sembuhkan, apalagi dokter juga sudah menyerah. Menurut perkiraan dokter amang ini hanya bisa bertahan dua atau tiga bulan lagi. Apalagi pagi ini ada dugaan bahwa penyakit kanker tersebut sudah mulai merambah ke otak. Oh.. Tuhan kasihanilah amang Ritonga.

Pukul 15.30 WIB abang dan kakak amang Ritonga datang dan saya pun bilang bahwa sudah saatnya kita mengadakan acara kebaktian kepada amang Ritonga. Memulai acara saya menghubungi amang Sintua Albert Manalu melalaui telepon ke Surabaya, supaya amang itu menyampaikan kata penghiburan untuk menguatkan amang itu dan keluarga, dengan suara pembesar dari HP amang Manalu beberapa patah kata mewakili Majelis HKBP Ujung. Setelah amang itu bicara, inang (istri sintua Manalu) juga tidak mau ketinggalan memberikan kata penghiburan. Inang itu bercerita bahwa ia baru saja mendengar kesaksian di  Radio ada seorang bapak disembuhkan Tuhan dari penyakit kanker. Lalu dengan dasar itu juga inang manalu  meyakinkan amang Ritonga bahwa mujizat yang didengarkannya juga bisa terjadi kepada amang Ritonga asal kita percaya saja.

Setelah mereka bicara, saya pun menyampaikan penguatan yang intinya adalah bahwa “Tidak ada yang mustahil bagi Allah (Lukas 1: 37), tetapi di tengah pembicaraan, jujur saya katakan saya pun ikut menangis setelah itu saya lanjutkan dengan doa.

Memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan kepada amang Ritonga secara medis, malah sudah disuruh pulang oleh pihak rumah sakit. Harapan dan doa saya sekarang adalah Kiranya Tuhan mengasihani amang Ritonga dan keluarga sehingga Tuhan berkenan memberikan mujizat kesembuhan kepada amang Ritonga.

Satu hal yang membuat saya terkagum-kagum melihat amang Ritonga adalah semangat hidupnya yang begitu kuat dan keyakinannya akan penyembuhan dari Tuhan, walapun pernah ditanyakan: “Seandainya Tuhan memanggilnya, apakah ia sudah siap?” amang itu menjawab: “Saya selalu siap amang”. Namun harapan itu selalu ada sebelum “saatnya tiba” kita hanya bisa berharap. Amang Ritonga, mudah-mudahan Tuhan mendengarkan doa kita.

Setelah acara selesai saya pun pulang ke Surabaya, naik Kereta Api dari Gambir, dan sekitar pukul 18.10 WIB Kereta Api yang membawa saya berangkat menuju Surabaya.

Doa:
Allah Bapa dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, Engkau tahu apa yang di derita amang Ritonga selama ini. Penyakit Kanker paru-paru telah menggrogotinya, membuat tubuhnya tidak berdaya. Dari pihak rumah sakit pun telah memutuskan supaya amang Ritonga dibawa pulang ke rumah karena usia amang Ritonga diperkirakan hanya bertahan dua sampai tiga bulan ini saja. Tuhan, kami tidak tahu harus berbuat apa lagi, tetapi kami tahu bagiMu segala sesuatu adalah mungkin. Kiranya tunjukkanlah kuasaMu dan kemurahanMu, kasihanilah amang Ritonga, biarlah kasihMu melingkupinya sehingga segala sakit penyakit yang menimpanya Tuhan buang ke dalam laut yang paling dalam. Biarlah kuasaMu memberikan kesempuhan kepadanya dan jadilah kehendakMu atas amang Ritonga. Amin.