002aMinggu ini jemaat saya banyak sakit dan harus di opname di Rumah sakit. Menurut beberapa pandangan awam bahwa penyakit itu terjadi banyak dipengaruhi faktor iklim yang sekarang. Di satu daerah masih banyak hujan sementara di daerah yang lain sudah masuk musim kemarau. Ini tentu paling tidak telah mempengaruhi kesehatan manusia. Baru-baru ini lingkungan saya tinggal harus disemprot anti nyamuk berdarah untuk mencegah perkembangannya sebab sudah ada beberapa orang yang terjangkiti. Namun terlepas dari faktor-faktor penyebabnya yang jelas jemaat saya banyak yang harus diopname minggu ini, seperti kemarin saya dan beberapa parhalado mengadakan perkunjungan sehari penuh mulai dari jam sepuluh pagi sampai sore.

Saudara Lukman Tambunan, masih muda dan baru menikah, harus opname Minggu pagi pada saat Paskah, divonis kena demam berdarah, tapi setelah dua hari bukan demam berdarah, kata pihak Rumah Sakit, beliau kena kena penyakit “tipes”. Berangkat dari sana kami ke rumah sakit yang berbeda membezuk amang M.T. Manik.

Amang M.T. manik umurnya sudah tujuh puluh dua tahun, harus diopname hari Selasa kemarin karena stroke ringan. Sebelumnya memang inang itu (istrinya) yang opname karena ada keretakan pada tulang pinggang. Ceritanya ketika amang dan inang itu mau berangkat ke gereja, mobil amang itu menabrak tiang telepon. Hal itu terjadi saat amang itu mau mengambil tissue yang jatuh di lantai mobil, dan pada saat itu rupanya setir mobilnya turut terdorong ke samping, dan jadilah menabrak tiang telepon.

Keluarga mengatakan amang Manik ini kena stroke mungkin karena kecapean menunggui inang itu waktu di rawat di rumah sakit. Padahal hari Minggunya saya mampir di rumah keluarga ini. Kebetulan tempat saat melayani minggu itu berdekatan. Memang sewaktu mampir, saya melihat jalan amang ini agak sempoyongan, tapi pikiranku mengatakan: “Mungkin faktor usia saja itu” ternyata pikiranku salah.

Setelah dari sana kami juga pergi ke rumah Pendeta Ressort Pdt. Sahat M. Simbolon. Amang Pendeta ini juga sakit tipes sudah satu minggu terbaring ti tempat tidur. Amang ini menolak di opname, katanya di rawat di rumah saja (berobat jalan). Saya melihat memang sudah agak
mendingan, mudah-mudahan saja sebab pelayanan yang padat sudah menunggu amang itu.

Berangkat dari sana kami ke rumah sakit mata, karena kamis pagi amang St. A. Panjaitan menjalani operasi katarak. Tapi kami tidak bertemu lagi, sudah pulang. Pihak Rumah Sakit bilang, setelah operasi, pemulihan hanya dua jam saja, setelah itu sudah bisa pulang. Kami pun pulang jugalah. Tapi waktu menjenguk amang Panjaitan ini, anak kami Ezekiel terjatuh, bibirnya sampai memar dan berdarah. “Wah.. nak.. ati-ati, jangan pula kita yang dibezuk gara-gara kamu jatuh”. Saya menolongnya berdiri sambil berkata: “cepat besar, cepat besar…”

Ada satu lagi sebenarnya, yaitu amang St. R. Ritonga, amang ini di rawat di Rumah Sakit TNI-Al di Jakarta. Bilau di fonis kanker paru stadium empat. Terahir berita yang saya dapat kemoterapinya sudah dihentikan karena tubuh amang ini sudah tidak bisa menerima lagi. Jujur
selama di rawat di Jakarta saya belum bisa menjenguk beliau ke sana. Kami hanya berkomunikasi lewat telepon untuk menguatkan amang itu. Satu hal yang saya dapatkan dari amang ini adalah semangat hidupnya yang sangat luar biasa. Dari segi medis tidak bisa lagi diharapkan. Hanya mujizatlah yang kita harapkan dari Tuhan. Kadang di dalam doaku sering bertanya kepada Tuhan, “Kenapa harus yang satu ini Tuhan…” Mengingat kebaikan amang ini terutama di dalam pelayanan gereja, tidak pernah ada kata “capek” saya tidak menyangka amang
Ritonga harus mengalami penderitaan yang seperti itu. Tapi toh segala sesuatunya memang tergantung kepada Tuhan. Harapanku, kalau Tuhan mengijinkan, amang Ritonga di sembuhkan Tuhan.

Yah… penyakit memang membuat kita bersedih, penyakit juga bisa membuat kita untuk semakin dekat pada Tuhan, penyakit juga bisa dipakai untuk menguji ketaatan kita, penyakit juga bisa menjadi kesempatan berintrofeksi diri, dan sebagainya, namun harapan dan doa saya, semoga lekas sembuh, dan kembali kepada keluarga dalam keadaan sehat.

Doa:
Ya Tuhan Allah, Engkau melihat bagaimana penderitaan dan kesedihan mereka oleh karena sakit penyakit yang menimpa mereka. Tuhan, sembuhkan mereka dengan kuat kuasaMu. BagiMu tidak ada yang mustahil, segalanya mungkin bagiMu, karena Engkaulah Mahapenyembuh. Karena itu Tuhan sembuhkan mereka, sehingga suka-cita itu kembali bersama mereka. Biarlah mereka bersuka-cita
karena Tuhan telah memberikan kesembuhan dari segala penyakit yang mereka derita. Amin.