Beberapa bulan ini inang di rumah selalu lemas, makan harus dipaksa (oleh saya tentunya), dan sepertinya harus banyak berbaring karena pusing dan mual-mual. Sama seperti pengalaman sebelumnya waktu mengandung anak kami yang pertama Ezekiel. Banyak yang bilang pengalaman seperti ini hanya pada anak pertama, tapi sepertinya bagi kami hal itu tidak. Terus teang aku sangat kasihan padanya.

Kalau sudah begini inang tidak bisa lagi diharap banyak untuk setiap pekerjaan seorang ibu di rumah. Biasanya pagi-pagi segala kebutuhan di rumah sudah dipersiapkan, namun untuk saat ini (seperti pengalaman yang lalu sekitar empat bulanan), sangat dibutuhkan pengertian dari seorang suami. Tapi jujur saja kadang kesal juga, sudah disuapin eh malah nggak selera katanya. Susahnya dia yang ajak makan di luar, tapi setelah disediakan, mencium bau makanan saja sudah mual.

Pernah beberapa waktu yang lalu kepingin makan nasi Padang, lalu kami berangkat sekitar pukul dua belas siang. Namun sampai di tempat yang dituju, makanannya sudah habis. Aku melihat kekesalan di dalam hatinya, lalu saya beri semangat supaya dia tidak kecewa, dan saya berjanji supaya besoknya kami datang lebih awal. Besoknya pun kami pergi dan alangkah kecewanya saya karena ternyata makanan yang dia pesan (sesuai seleranya tentunya) hanya di pandangi alias nggak disentuh. Kesal juga dalam hati bah.

Untuk menambah tenaga inang saya selalu buatkan teh manis. Kata orang-orang yang memberi saran hal itu sangat membantu. Dan memang saya melihat teh manis sangat membantu inang, selain susu khusus ibu hamil dan obat dari dokter.

Kalau mamanya sudah muntah-muntah, anak kami Ezekiel yang belajar ngomong ini selalu bilang “pa, mama oek-oek (maksudnya muntah)” lalu saya terangkan bahwa dedeknya mau ada. Dia biasanya menjawab, “dedek? dedek mammii..” kadang kalau mamanya lagi mual-mual Ezekiel bilang, “Jangan nakal dedek!” (Mungkin dia pikir, dedeknya lagi nakal di dalam sana sehingga mamanya jadi kesakitan?).

Tapi itulah hebatnya anak-anak ini, mungkin karena kita selalu bilang bahwa yang di perut mamanya adalah dedeknya, hingga suatu minggu saya lagi ngomong-omong sama salah seorang bapak. Kebetulan perut bapak ini agak besar, lalu Ezekiel datang dari belakang saya, menarik tangan bapak itu. Bapak ini pun menunduk ke arah Ezekiel. Tapi alangkah malunya saya, sebab waktu Ezekiel menarik tangan bapak itu, ia pegang-pegang juga perut bapak itu sambil sambil berkata, “dedek kiel, dedek kiel” (ada beberapa kali dibilangnya). Untuk mengatasi rasa malu saya, saya pun balik kanan gerak pura-pura menegor orang lain. Yang sebenarnya adalah saya kalah malu.