Sumber Foto Kompas
Sumber Foto Kompas

Satu lagi tragedi kemanusiaan di negara kita, yakni jebolnya tanggul Situ Gintung sepantasnya membuat kita menangis meneteskan air mata. Kabar terakhir diberitakan ada 98 jiwa meninggal, 102 jiwa hilang, entah berapa jiwa yang mengungsi dan entah berapa banyak kerugian yang ditimbulkannya. Seperti diberitakan media, peristiwa itu adalah akibat hujan deras yang turun selama lima jam pada Kamis, 26 Maret 2009 malam, sehingga tanggul Situ Gintung yang dibangun pada jaman penjajahan 1930-an itu jebol pada Jumat sekitar pukul 05.00 WIB.

Berbagai ungkapan belasungkawa berdatangan baik dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan bahwa Pemerintah akan menyentuni semua korban dan membantu pembangunan rumah warga yang rusak, juga Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla yang langsung mengadakan rapat darurat bersama Menko Kesejahteraan Aburizal Bakrie dan Menteri PU Djoko Kirmanto. Wapres Kalla mengatakan, pemerintah segera membangun tanggul permanen dengan konstruksi lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan (Kompas, 28/3/09).

Tapi menurut saya, inilah yang membuat kita menangis. Bangsa ini memang selalu tanggap dan belasungkawa kalau peristiwanya sudah terjadi. Sementara kalau ditanya soal penggulangan? Kita masih sulit menentukan mana prioritas yang utama untuk didahulukan. kita masih jatuh kepada “pencobaan” lebih mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Kepentingan kelompok di atas kepentingan masyarakat. Jangan-jangan hal semacam ini pula yang menyebabkan masyarakat jenuh akan janji-janji Caleg atau Partai Politik yang sedang lagi ramai sekarang ini.

Sudah sepantasnya kita menangis kalau benar apa yang dilaporkan masyarakat bahwa sebenarnya “tanda-tanda” akan robohnya tanggul ini sudah lama diketahui. Seperti Amien Widodo peneliti Pusat Bencana ITS Surabaya, mengatakan bahwa “Dua tahun lalu sudah dilaporkan oleh warga yang menilai tanggul tidak dirawat” atau hasil penelitian Sutopo Purwo (Direktur Bidang SDA-BPPT). Saat ia melakukan survei di Situ Gintung sebagai anggota tim peneliti untuk pembangunan waduk resapan di wilayah Jabodetabek pada Desember 2008, sudah banyak longsoran kecil dan rembesan kecil di sepanjang tanggul (Kompas, 28/3/09).

Entah itu karena kerelaan ataukah “kesempatan dalam kesempitan” (mudah-mudahan jangan), para caleg dan partai pun mendirikan posko-posko bantuan sebagai ungkapan belasungkawa terhadap warga. Namun tetap saja hal itu tidak dapat menghapus ari mata kepedihan kita. Karena sebenarnya tragedi itu bisa diantisipasi. Tergantung bagaimana hati kita tergerak, sebagai orang-orang yang bekerja di bidang itu. Masih banyak situ-situ yang lain yang harus kita tangani dengan segera supaya hal seperti Situ Gintung tidak terulang lagi.

Buat warga di Situ Gintung, kami turut berbelasungkawa. Keluarga yang meninggal, atau pun yang belum ditemukan, juga banyaknya kerugian dan kepedihan yang tidak bisa diukirkan, kami berdoa untukmu. Sebagai sesama anak bangsa kami berharap semoga kepedihanmu lekas terobati. Air matamu adalah air mata kami juga.