“Pak Lumban” Panggilan ini yang selalu saya sebutkan buak amang Lumbanraja anggota Koor Ama gereja HKBP Ujung. Panggian ini adalah spesial buat beliau karena di Koor Ama amang inilah yang selalu membuat hiburan melalui cerita-cerita yang menghibur tetapi menggigit. Sewaktu duduk-duduk sepulang latihan beliau bercerita:

Ada seorang Bapak yang sudah lama menderita sakit. Kehidupan yang pas-pasan membuat pengobatannya tidak bisa dilanjutkan. Lalu ia berfikir: “Tidak ada lagi yang bisa diminta pertolongan selain kepada Bapa yang di Sorga. Kalau begitu saya akan mengirim surat kepada Bapa di sorga untuk menolong saya” Lalu ia pun menuliskan surat.

“Bapa kami yang di sorga, aku tahu hanya kepadaMulah aku meminta tolong. Pokoknya hanya kepadaMu. Semua saudaraku sudah pada menjauh. Meminta kepada tetangga tidak mungkin, karena mereka pun melarat juga. Karena itu kirimlah aku uang Seratus Ribu Rupiah. Aku sangat membutuhkannya sekarang.”

Selesai menulis surat ini, ia memasukkannya ke dalam amplop dengan alamat “Bapa kami yang di sorga” sedang pengirimnya lengkap dengan alamat si bapak itu. Kemudian ia memasukkanya ke dalam kotak pos. Dengan pemikiran mana tahu “Bapa yang di sorga berkenan mengirimkan uang seratus ribu rupiah”

Tukang posnya pun bingung, sebab alamatnya adalah “Bapa kami yang di sorga” Dari pada bingung, tukang pos lalu memberikan surat ini kepada kepala desa. Pak kepala desa pun heran, saking penasannya, pak kepala desa membuka surat ini dan membaca isinya. Karena tersentuh akan isi surat ini lalu ia pun berpikir. “Ach… kasihan di bapak itu, tapi gimana ya uangku hanya tujuh puluh lima ribu rupiah. Tapi nggak apalah, demi menolong pak tua itu pikirnya.” Ia pun memasukkan uangnya yang tujuh puluh lima ribu itu dan menyuruh sekretarisnya memberikan kepada pak tua tadi.

Pak tua tadi pun senang, karena ia merasa bahwa surat yang dikirimnya sudah datang. Namun setelah melihat isi amplopnya ia pun marah-marah. “Tengekloh, hanya seratus ribu kuminta kepada Tuhan, tapi masih tega-teganya pak kepala desa itu mengkorupsi dua puluh lima ribu”