Sore hari kebetulan saya mau ke mini market untuk membeli pisau cukur. Sampai di tempat Handphone saya bunyi, dan rupanya dari Inanta Soripada. Saya pun menjawab: “Ada apa ma?”

“Pa, tolong belikan susu Ezekiel (Maksudnya anak kami), mama tidak perhatikan tadi, rupanya sudah habis. Tolong beli pa ya? nanti mama ganti” (Dalam hati saya berkata: “Cari kesempatan ini”) Tapi saya jawab juga: “Ok”

Belum beberapa menit Handphone saya bunyi lagi, “Ada apa ma?”

“Sorry pa, sekalian belikan dulu gula pasir setengah kilo, garam satu bungkus, yang halus ya..eh, satu lagi, jangan lupa roti tawar untuk sarapan papa besok”

Saya pun ok sajalah, apalagi kalau boru Silalahi yang ngomong, nggak ada remnya..he..he.. Saya pun membelikan apa yang telah dipesannya.

Saat akan membayar belanjaan Handphone saya bunyi lagi…: “Aduh pa, nggak marah khan?”

“Apalagi ini? (Nada suara saya pun sudah naik)

“Sewaktu papa keluar tadi, tamu datang, mau kasih minum rupanya kopi kita habis, tolong belikan ya pa? Ntar tamunya nggak minum lho” (Toho tahe pikirku)

Selama saya berbincang sama tamu, pikiran saya hanya uang pengganti belanjaan tadi, dan setelah mereka pergi saya langsung minta ganti uang belanjaan tadi namun inang hanya bilang: “Alah…papa, uang segitu aja diminta, kapan-kapan sajalah itu mama ganti”

“Tapi? Setiap bulan saya selalu setor semua ke mama, nggak pakai potongan lagi… Nggak mau pokoknya bayar sekarang”

“Eee.. amang pandita! Emangnya cukupkah?”

Kalimat yang terakhir ini yang membuat saya tersadar: “Benar sekali apa yang di bilangnya” Namun bagaimana pun, disitulah kepintarannya. Sehingga yang sedikit itu tidak akan berkekurangan.

Dalam hati saya pun punya tekad: Kalau kebetulan saya ke mini market lagi, kalau memang ada uang di dompet, dan Handphone berdering dari inanta soripada, meminta sesuatu untuk dibelikan, apa salahnya?