Sepanjang hari Sabtu kemarin di daerah tempat tinggal kami hujan tidak berhenti sampai tengah malam. Kebetulan atap rumah dinas gereja yang juga sebagai tempat tinggal kami sudah banyak yang bocor. Memang sudah beberapa kali di perbaiki selama kami diami tetapi kasus yang sama setiap musim hujan tetap saja terulang, yakni bocor di mana-mana. Kalau sudah demikian kami pasti kerepotan menampung air yang bocor dari atap rumah.

Sekitar pukul 24.00 WIB memang saya masih sibuk di depan computer,
sementara inang dan anak kami Ezekiel sudah tidur, dan pada saat itulah saya mendengar suara yang keras dari dapur, “duaarrr”. Saya langsung berlari melihat apa yang terjadi, rupanya asbes yang di dapur roboh. Saking kerasnya inang juga terbangun: “Ada apa pa? Ada yang menyerbu rumah kita ta?” Saya pun spontan menjawab “Na marnipi do ho?… lihat sendiri asbes di dapur roboh”

Pecahannya berserakan di mana-mana, ada di rak piring, di meja makan, dan di atas kompor masak. Kami berdua pun bergotong-royong membersihkannya, dan sekitar pukul 01.30 WIB dapur sudah kami bersihkan, sementara itu hujan masih datang dengan derasnya.

Setelah dapur dibersihkan dari pecahan asbes yang roboh, saya duduk di ruang tamu. Berpikir… Seandainya waktu kejadian itu saya di dapur… mungkin saya akan tertimpa. Tetapi Tuhan tidak membiarkan itu terjadi, Tuhan masih memelihara dan melindungi kami sekeluarga. Ada hikmat juga di musim hujan ini…

Saya lalu teringat sebuah ilustrasi…

Ada seorang bapak yang kerjanya hanya cemburu terhadap orang lain atas penyertaan Tuhan. Setiap hari selalu berkata: “Tuhan, Engkau tidak
adil? Lalu suatu hari dia pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki.

Di tengah perjalanan ia kecapean, dan melihat sebatang pohon bintatar
(sejenis pohon yang kayunya dapat dipergunakan untuk alat bangunan)
yang berdiri dengan kokohnya, ia lalu duduk berteduh di bawah pohon bintatar ini, tapi masih sempat ngomong sendiri: “Lihatlah pohon
bintatar ini, batangnya besar, akarnya kuat, tapi bijinya kecil, Tuhan ini memang tidak adil, semestinya kalau batangnya kuat, buahnya pun besarlah”

Setelah mengatakan demikian, dia juga melihat jelok (sejenis labu) yang
berada beberapa meter dari tempatnya berteduh, ia pun ngomong sendiri: “bah itu lagi, batangnya kecil, tapi buahnya besar, ada-ada saja” Demikianlah ia selalu menilai bahwa Tuhan itu tidak adil.

Tidak lama kemudian ia pun tertidur di bawah pohon bintatar ini. Tidak
lama ia tertidur, beberapa buah pohon bintatar ini jatuh dan tepat
mengenai kepalanya. Ia pun terbangun dan tersadar dan bersuara keras, “Tuhan Engkau Maha Adil. Seandainya buah pohon bintatar ini seperti buah pohon durian dan tepat mengenai kepalaku, tentunya kepalaku akan luka-luka atau bisa juga… akh.. Tuhan, ampunilah kesalahanku…”

Doa:
Tuhan, berilah kami hikmat untuk mengerti apa rencanaMu dalam hidup ini sehingga di dalam menjalani hidup penuh dengan kepercayaan bahwa segala sesuatunya rencanaMu dalam hidup ini adalah untuk pemeliharaan hidup kami.