Bahan Renungan: Lukas 3:7 – 14

Kemapanan sebagai keturunan Abraham dan bangsa pilihan Allah telah membutakan pemikiran orang Israel sehingga mereka lupa iman haruslah berbuat (ay.8). Bukan dengan berbangga diri dan berdiam tanpa berbuat apa-apa. Mereka lupa bahwa iman itu juga haruslah dibarengi dengan kasih terhadap sesama. Sehingga tidak mengherankan kalau Yohanes Pembaptis mengatakan: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang? (ay.7).

Gaya Yohanes Pembaptis memang khas dan kedengarannya kasar, namun justru dengan cara itu ia telah menyadarkan banyak orang, sehingga tiba pada kesadaran: Apakah yang harus kami perbuat? Artinya, ketika seseorang atau beberapa orang mengatakan seperti itu, berarti pikirannya telah dibuka, dan kalau sudah ada kemauan untuk membuka diri, di situ pulalah orang akan mengakui kesalahannya, dan tentunya akan membuka diri untuk mau berubah ke hal-hal yang lebih baik.

Kesadaran untuk mau menanyakan “apakah yang harus kami perbuat” akan mengalami kesulitan kalau kita tidak mau membuka diri, dan sepertinya itulah yang menyebabkan sehingga untuk “menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (ay.8) akan mengalami kesulitan pula. Jangan heran pula kalau masalah kemanusiaan seperti kemiskinan, keserakahan (korupsi) bahkan kekerasan akan sulit diperbaiki.

Waktu kita juga terbatas, seperti Yohanes Pembaptis katakan: Ai nunga pola ampe tangke tu daling ni angka hau (Kapak sudah tersedia pada akar pohon, ay.9). Itu berarti bukan nanti tapi sekarang, semasih kita hidup, atau pada masa adven ini adalah waktu yang tepat.

Lalu “Apakah yang harus kami perbuat?” “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” (ay.11).

Jika ia pemungut cukai: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (ay.13)

Jika Tentara?: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

Atau siapa pun kita, patutlah kita menanyakannya pertanyaan yang sama setiap saat, “Apakah yang harus saya perbuat Tuhan?” Sehingga pada akhirnya kita akan menghasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (ay.8). Amin.

Selamat Adven