Sifat alami manusia adalah memberontak ketika dihadapkan kepada suatu hukum. Kita melihatnya sebagai tantangan untuk dilanggar. Agustinus (354-430), seorang teolog terkemuka dalam bukunya “Confessions,” menulis:

Di dekat kebun anggur kami ada sebatang pohon pir yang berbuah lebat. Pada suatu malam yang berbadai, kami anak-anak berandalan bersepakat untuk mencurinya.

Kami mengambil begitu banyak pir, bukan untuk kami nikmati sendiri, melainkan untuk dilemparkan pada bai-babi. Kami hanya makan beberapa, sekedar menikmati enaknya buah pir. Buah pir itu enak, namun bukan buah pir itu yang diinginkan oleh jiwa saya yang hina ini.

Karena sebenarnya kami mempunyai buah pir yang lebih enak di rumah. Saya mengambilnya hanya untuk mencuri. Keinginan mencuri muncul hanya karena ada larangan mencuri.

Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut (Roma 7:5).