HKBP Ujung

Gereja HKBP di mana saya melayani dulunya adalah Sektor satu dari HKBP Surabaya yang berlokasi di Basis Pangkalan Armada Timur V – Surabaya. Oleh karena perkembangan, maka anggota Sektor I mulai merencanakan supaya di Sektor I diadakan Kebaktian Minggu. Tanggal 7 Oktober 1970, Sektor I resmi menjadi Pos Pelayanan, yang pada waktu kebaktian minggu perdana dipimpin oleh Pdt. Letkol. A.D. Pasaribu. Jumlah anggota jemaat pada waktu diresmikan menjadi Pos Pelayanan adalah 46 KK, dengan daerah pelayanan: Mess Ampel, Pasiran, Endrosono, Wonokusumo, Bulak Banteng dan Sekitarnya. Tempat kebaktian yang pertama adalah Kantin Ria Tama. Tempat ini diberikan oleh Angkatan Laut berdasarkan permohonan anggota jemaat Sektor I.

Jemaat pun semakin berkembang namun tempat ibadah selalu berpindah-pindah, sehingga sulit membina Remaja dan Sekolah Minggu sebagai generasi penerus yang beriman, yang dikarenakan fasilitas yang dipakai sangat terbatas waktunya. Akhirnya disepakati untuk membeli sebidang tanah untuk membangun rumah ibadah, dan Tangal 24 Nopember 1985, jemaat dapat membeli sebidang tanah yang terletak di Dukuh Bulak Banteng ( di luar basis). Namun tanah tersebut tidak dapat di bangun karena warga sekitar tidak dapat menerima adanya bangunan gereja di tempat itu. Namun Jemaat tidak putus asa untuk membeli pertapakan walaupun tingkat kesulitannya sangat berat, sehingga jemaat membeli sebuah Gudang yang berlakosi di Jl. Pegirikan, hal ini pun tidak terlaksana.

Perjuangan demi perjuangan selalu dilakukan dan permohonan akhirnya disampaikan kepada TNI-AL meminta sebidang tanah untuk pembangunan gedung gereja. Permohonan dan Doa yang selalu dipanjatkan jemaat akhirnya terkabul yang mana TNI AL memberikan sebidang tanah untuk membangun rumah ibadah seluas 1.500 M2 atau 30 X 50 M, melalui Surat Nomor: B/310/20/3/4/Lant.III. Tertanggal 19 April 1996.

Suka-cita jemaat semakin sempurna dimana pada Tanggal. 4 Agustus 1996, diadakan Acara Peletakan Batu Pertama Gedung Gereja HKBP Ujung oleh Pdt. N. Manurung, dihadiri oleh Komandan Lantamal III Bpk. Laksamana Pertama Bernard Kent Sondak, sekaligus menandatangani prasasti peletakan Batu Pertama. Dengan kegigihan jemaat akhirnya Gereja pun dapat dibangun dan telah di ompoi (ditahbiskan) oleh eforus HKBP Tanggal 27 Juli 2007 yang lalu.

Sekarang pergumulan yang dihadapi adalah IMB gereja. Memang warga di komplek AL yang berada di sekitar gereja setuju rumah ibadah berdiri seperti sekarang ini, namun anehnya, justru pihak kelurahan yang sulit memberikan persyaratan untuk pengurusannya. Sekali dibilang “tanah itu bukan milik TNI AL”, “itu tanah masyarakat” sehingga ada kesan ketidakmauan untuk memberikan persetujuan.

Kalau dipikir, sebagai warga negara yang baik kita sudah berusaha mengurus IMB gereja. Apakah uang yang diminta? Kita juga tidak berani mengatakan itu. Lalu apa maunya? Inilah yang menjadi pergumulan jemaat sampai saat ini. Saya meminta kepada semua anggota jemaat di
mana pun mereka berada agar membawakannya selalu dalam Doa.

TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam. (Mazmur 26: 8).