Hari Kamis lalu saya ditelepon oleh Bapak Fajar Siahaan, seorang anggota jemaat dan mengundang saya ke rumahnya hari minggu ini, pukul 19.00 WIB. Tujuannya untuk mengikuti kebaktian keluarga karena bulan Maret yang lalu ibotonya (kakaknya yang perempuan) telah meninggal dunia. Dan bapak Siahaan menjelaskan bukan kami saja yang diundang, ada beberapa pendeta HKBP yang lain.

Jadilah kami berangkat naik taksi, bersama inang dan anak kami Ezekiel juga, walaupun kondisinya masih belum sehat betul. Sebenarnya saya kurang tega membawanya, tapi dari pada di rumah, sepi tidak ada yang menemani lebih baik ikut saja pikirku.Kami datang terlambat dan ibadah sudah dimulai.

Pendeta Timbul Sitanggang memimpin kebaktian dan dalam khotbahnya dia mengambil nats dari Roma 13: 12 yang berbunyi: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Dalam paparannya Pendeta mengatakan bahwa ketika kita mau mengenang orang yang kita kasihi hendaklah kebaikannya yang kita kenang seperti keteladanan dan ketaatan di dalam Tuhan dan hendaklah keluarga yang ditinggalkan melanjutkannya.

Setelah ibadah, keluarga Siahaan menjelaskan bahwa maksud keluarga mengundang beberapa Pendeta adalah karena sebelum meninggal, Berta br. Siahaan (alm) menuliskan dalam testamennya supaya “semua harta miliknya berupa uang tunai di sumbangkan ke gereja dan yang membutuhkan” Maka sebelum pulang kepada saya dan juga teman yang lain pun diberikan sejumlah uang di dalam amplop yang sudah di lem untuk diberikan kepada gereja yang saya layani. (bukan ke pribadi saya lho..he..he..). Biarlah nanti para penetua yang membuka dan menghitungnya di sermon.

Di sinilah maksud saya bahwa cinta tidak pernah mati walaupun orangnya sudah meninggal. Ia telah memberikan apa yang diberikan Tuhan untuk keperluan pelayanan Kerajaan Tuhan. Jujur saya katakan bahwa baru kali ini saya melihat ketulusan seseorang memberikan apa yang dia miliki setelah meninggal diserahkan untuk pelayanan Kerajaan Tuhan. Memang umumnya tanah gereja-gereja di Tapanuli adalah sumbangan dari tokoh-tokoh masyarakat, tapi pada jaman saya ini, hal itu sudah jarang.

Malah yang sering saya lihat adalah bagaimana “halak hita” beramai-ramai membuat tugu orang mati sampai ratusan juta, penuh kemewahan, sementara rumah penduduk di samping tugu itu malah sudah hampir rubuh karena tidak ada biaya untuk memperbaiki. Tugu mempunyai lampu listrik sementara rumah yang disampingnya hanya diterangi lampu minyak. Saya pernah mengusulkan kenapa kita tidak membuat “tugu yang hidup” saja? Misalnya dengan membangun saluran air untuk desa sehingga bermanfaat bagi desa. Jadi untuk mengenang yang meninggal namai saja nama proyek itu dengan nama orang yang meninggal tersebut. Contohnya: Saluran air Op. Marihot. Itu lebih manusiawi.

Kembali kepada cinta yang tidak pernah mati di atas, saya hanya mau mengucapkan, walaupun saudari Berta br. Siahaan sudah tiada, namun cintanya tidak pernah mati. Selamat jalan, Tuhan menyertai keluarga yang ditinggalkan dan apa yang dilakukannya adalah untuk pelayanan Kerajaan Tuhan.