Saya baca koran Kompas edisi Jawa Timur Tanggal 27 Nopember 2008. Di sana diberitakan bahwa selama tahun 2008 Kelompok Perempuan Pro Demokrasi (KPPD) Samitra Abhaya menganalisa 434 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Jawa Timur. Dari kasus tersebut, hanya 18,2 persen atau 79 kasus yang akhirnya ditindaklanjuti ke tingkat pengadilan.

Salah satu penyebab sulitnya pembuktian kasus kekerasan pada perempuan adalah sekitar 70 persen perbuatan kekerasan dilakukan oleh orang terdekat korban, seperti pacar, suami, orang tua, saudara, bahkan kakek.

Teringat saya satu tahun yang lalu ada boru kami yang maaf lagi hami tua meninggal. Ada desas-desus itu terjadi karena suaminya suka memukuli istrinya. Tapi siapa yang berani membuktikan? Apalagi kalau keluarga tidak ada yang “merasa keberatan?”

Kalau tidak salah bumi itu mempunyai jenis kelamin perempuan. Itulah makanya kalau kita melihat gunung, kita akan bilang “uli na i dolok an” (alangkah indahnya gunung itu), atau kalau kita melihat pemandangan, “sungguh indah pemandangan itu”. Jadi kalau itu dirusak atau dicemarkan maka keindahan itu akan sirna.

Ada lagi yang mengatakan bahwa peralatan rumah tangga itu mempunyai jenis kelamin perempuan,
makanya piring, gelas, mangkuk, sendok, kursi, meja, dll mempunyai bentuk yang berlekuk sehingga membentuk suatu keindahan, makanya penguasa dapur itu sebenarnya adalah perempuan.

Ada pula dari sudut bahasa batak misalnya parompuan (perempuan, wanita) berasal dari kata dasar ampu yang lalu menjadi parampuan (kalau diterjemahkan secara harafiah adalah yang mempunyai pangkuan), laki-laki tidak pernah disebutkan punya pangkuan.

Lalu kenapa keindahan itu harus hilang oleh karena kekerasan terhadap perempuan? Jangan sampailah. Baik itu pemukulan, penyiksaan, bahkan pelecehan sexual haruslah dihentikan.