dsc03277

Seperti biasa setiap hari senin kami para pelayanan mengadakan sermon untuk bahan khotbah minggu dan kebaktian sektor di HKBP Surabaya, juga yang berhungan dengan pelayanan. Saya juga selalu membawa inang dan anakkami Ezekial. Soalnya tidak tega meninggalkan mereka di gereja (yang sekaligus tempat tinggal kami). Kebetulan komplek gereja sepi kalau pagi, lagian letaknya agak jauh dari rumah penduduk, alias hanya dikelilingi tambak.

Saya sudah melihat bahwa hujan sudah mau turun, kalau diteruskan naik sepeda motor akan diguyur hujan. Akhirnya kami putuskan pergi ke rumah salah seorang jemaat. Manatau bersedia mengantarkan kami ke tempat sermon yang kebetulan agak jauh dari tempat kami melayani. Syukur jemaat tersebut mau mengantarkan kami dan memang beberapa saat setelah meninggalkan rumah mereka, hujan turun dengan lebatnya.

Sampai di tempat sermon saya langsung ke konsistori, sementara inang dan Ezekiel di rumah Pendeta Ressort. Selesai sermon kami tidak langsung pulang, masih ngumpul dengan beberapa teman pelayan yang lain sambil menunggu hujan reda. Benar saja sekitar pukul 17.00 WIB hujan reda dan kami pun menumpang kendaraan teman pelayan yang lain yang kebetulan arahnya sama dengan tempat tinggal kami. Lagi-lagi di tengah jalan hujan turun lagi.

Tengah malam anak kami muntah-muntah dan mencret, kenapa ini? Apa masuk angin? Tidak biasanya seperti ini?. Saya kasih obat mencret, masih belum ada juga perubahan, malah setiap minum susu langsung dimuntahkan. Badannya juga malah jadi panas. Saya coba hubungi teman, mereka bilang kasih banyak minum air hangat saja. Pokoknya sepanjang malam tidak bisa tidur untuk jaga-jaga.

Sesuai dengan ajaran orang tua katanya kalau anak panas papanya yang gendong supaya panasnya turun. Jadilah “marompa” sepanjang malam, sampe nggak sadar bermimpi bersalaman dengan orang. Dan rupanya inang memperhatikan. “lho pa, ngapaiin?” Eh, rupanya waktu mimpi bersalaman itu tanpa
sadar tanganku mempraktekkan orang lagi salaman. eh tahe…

Anak kami Ezekiel lagi, kebetulan dia sudah mulai banyak tahu perbendaharan kata-kata, sehingga dalam keadaan seperti itu ia selalu aja ngoceh. Kadang ia bilang “ma..am..ma..” Kadang ia bilang “anyi..anyi pa..” Saya pun nyanyilah, apalagi dia sangat suka lagu Buku Ende No.550, “Tanganku na metmet hulehon ma tu Debata. Da inang i na loja i, sai urupanku na ma i, tanganki di Ho ma i. Tanganki di Ho ma i.” lagu itu saya ulang beberapa kali dan sesudah saya nyanyi, dia bilang pula “makaci pa..”

Paginya Ezekiel kami bawa ke Rumah Sakit, dan dikasih obat. Ada indikasi anakkami salah makan, lalu istri saya bilang bahwa sehari sebelumnya Ezekiel di kasih sop di tempat sermon. Mungkin sopnya sudah bermalam kali. Namun keadaannya sekarang sudah agak baikan. Cepat sembuh amang ya! juga tidak lupa terimakasih buat amang Pdt. Daniel T.A. Harahap yang turut mendoakannya dari jauh.