Sedang serius membaca beberapa sumber untuk tesis, tepatnya pukul 23.55 WIB, telepon rumah berdering. “Ada apa ya?” Ada kekuatiran juga sedikit, “Jangan-jangan telepon dari kampung, jangan-jangan karena pernyataan saya tentang “komik yang menyesatkan” lalu ada orang yang “iseng-iseng” Pokoknya jangan-jangan semualah, namun ternyata tidak.

Saya di telepon seorang ibu yang juga jemaat saya, minta supaya saya ikut mengantarnya ke rumah sakit karena katanya badannya bengkak dan gatal-gatal semua. Memang sebelumnya inang (ibu) itu baru pulang dari rumah sakit yang sebelumnya opname selama empat hari dan penyakitnya adalah pertigo (saya kurang tahu persis cara nulisnya).

Sebab katanya kalau saya ikut ia akan merasa nyaman. Saya pun datang dan sudah di tunggu di pos penjagaan (kebetulan antara gereja yang juga tempat tinggal kami, di batasi oleh pos penjagaan yang sudah ditutup pukul sepuluh malam).

Amang (suaminya) itu bilang “Lompat sajalah amang, nggak ada penjaganya” (kebetulan gerbangnya digembok). Saya pun melompat pagar itu. (Kalau ada orang lain melihat mungkin mereka akan berkata: “Bah.. nga mangangkat be pandita i, songon na taulahon tingki marsingkola ate…he..he..). Tak apalah, demi sebuah kebaikan.

Di dalam mobil inang itu menceritakan kekuatirannya, “Gimana ini amang, badan saya bengkak dan gatal semua” saya pun menjawab: “Mungkin inang alergi? makan apa tadi?” Pokoknya banyaklah yang kami perbincangkan sambil meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Sampai di di rumah sakit kami langsung ke ruang dokter jaga dan menceritakan bahwa tubuhnya semua gatal-gatal dan bengkak. Dokter pun memeriksa obat itu dan sudah sesuai dengan resep dokter dan mengatakan tidak ada masalah dengan obat itu.

Dokter berkata: “Tidak mungkin inang alergi sebab obat anti alergi ada di buat dalam resepnya” Akhirnya dokter pun bertanya: “Apa ibu sudah minum obat ini?” (Sambil menunjukkan obat tablet berwarna kuning) Si inang pun menjawab: “Belum dok, soalnya aku lihat hanya 1 x sehari jadi kupikir nggak apa-apa kalu nggak diminum”

Serentak saya dan amang itu (suaminya) terdiam tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Pikirku: “Bah..nga sega” atau meminjam istilah sahabatku Michael “Nga mauf be”

Kami pun pulang dari rumah sakit dan untuk menyemangati inang itu saya pun bilang: “Saya kan sudah mendoakan inang, masa sakit lagi?” “Benar amang” inang itu menjawab. (tujuan saya sebenarnya supaya inang itu tidak merasa bersalah).

Puji Tuhan ternyata memang tidak terjadi apa-apa seperti yang kami kuatirkan dan setelah meminum obat yang ditunjuk dokter tadi inang itu sudah baikan.

Renungan:
Kekuatiran bisa menjadi salah satu penyebab kita tidak berpikir positip. karena itu: Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Pet. 5:7)