Karena ketiadaan uang untuk kuliah, tamat Sekolah Pertanian dari Palembang saya harus menganggur dan membantu papa berjualan. Saya minta sama papa supaya saya boleh kuliah di STT-HKBP Pematangsiantar, tapi papa tidak setuju karena papa merasa tidak kuat lagi untuk mencari nafkah oleh karena faktor usia yang pada waktu itu sudah jalan 65 tahun.

Di satu sisi saya memang memakluminya karena sebagai keluarga besar yang mempunyai anak sembilan orang, dan apalagi saya sebagai anak bungsu tentu beban rumah tangga sangatlah sulit, mama juga tidak mungkin membantu papa sebab sejak saya kecil mama sudah sakit-sakitan dan selama 17 tahun ia hanya berbaring di tempat tidur oleh karena penyakitnya yang lumpuh akibat penyakit hypertensi yang ia alami.

Saudara yang sudah berkeluarga hidupnya pas-pasan. Itu pun mereka sudah saling bergantian untuk menyekolahkan saya dan abang saya yang masih kuliah, di tambah kalau saya kuliah juga mereka sudah angkat tangan, tidak mampu lagi karena mereka juga harus membiayai anak-anak mereka yang sudah semakin besar.

“Pa, saya mau kuliah” tapi papa hanya bilang: “Dari mana uang kita amang! Biaya pengobatan mama saja saya sudah pusing untuk mencarinya” Perkataan seperti ini seakan menjadi makanan sehari-hari dan kalau dipikir ada benarnya. Makan saja harus lebih dulu makan gadong (ubi) yang sudah dimasak baru boleh makan nasi, tujuannya supaya beras tidak cepat habis, dan beras yang dimasak pun harus lunak alias dibuat menjadi bubur supaya banyak.

Saya memang sudah tanya kepada Pendeta kami bahwa biaya kuliah yang paling utama dibutuhkan masuk STT-HKBP Pematang Siantar adalah uang pembangunan yang pada waktu itu lima ratus ribu rupiah. Selanjutnya uang kuliah tidak terlalu mahal yakni sembilan ribu lima ratus saja satu sks. Terus dari mana uang pembangunan ini harus di cari?

Saya lalu berinisiatif menanam cabai di ladang kami, dengan harapan hasilnya akan bisa membantu papa untuk menambah dana untuk uang pembangunan kalau-kalau sudah lulus di terima masuk di STT-HKBP Pematang Siantar. Saya senang melihat tanaman cabai saya mulai bertumbuh dan buahnya yang masih hijau sudah mulai bermunculan.

Namun kenyataan menjadi lain ketika hujan turun lebat selama dua hari. Akhirnya tanaman cabai saya mati semua karena terendam hujan. Saya marah, marah sekali kepada Tuhan. “Mengapa Engkau perlakukan aku seperti ini Tuhan? Bukankah engkau yang mengatakan bahwa setiap orang yang berusaha akan dibukakan jalan? Aku ini mau kuliah Tuhan, ingin jadi pendeta, tapi kok begitu perlakuanMu.”

Kemarahan itu saya lampiaskan dengan tidak pergi ke gereja sama sekali, kalau ada orang berdoa saya paling benci, karena saya merasa hal itu percuma saja. Saya pergi ke lapo (warung), duduk-duduk seharian, minum kamput dan untuk pertama kalinya saya mabuk, sehingga sahabat saya si munthe harus repot membuatkan kopi pahit, katanya itu adalah obat untuk orang mabuk.

Dua bulan kemudian ada pelebaran sungai untuk kebutuhan irigasi dari pemerintah dan ladang kami di ambil pemerintah selebar satu meter sepanjang ladang kami. Sebagai gantinya pemerintah menghargainya sebesar tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, melebihi dari apa yang saya butuhkan untuk uang pembangunan.

Saya takut, setakut-takutnya. Kenapa tidak? Saya telah terlanjur marah pada Tuhan, tapi Tuhan malah membalasnya melebihi dengan apa yang kubutuhkan. Saya lalu minta ampun atas kecerobohanku dan bersyukur karena Tuhan itu tidaklah sejahat apa yang saya pikirkan.

Memang benar, jangan pernah berhenti berharap. Sebab jawaban ada dalam Tuhan. Satu lagi pergumulan hidup telah dilalui dengan suatu kepastian.