Segera setelah menikah sebuah keluarga tinggal di sebuah rumah yang letaknya di pinggir jalan yang kebetulan adalah tempat lalu-lalangnya orang-orang se-kampung ke tempat permandian (pansur).

Suatu hari ada seorang ibu lewat dari depan rumah mereka dengan tujuan ke tempat permandian. Sewaktu ia melewati rumah yang keluarga yang baru menikah itu, terdengarlah suara yang keras antara suami dan istri seperti “perkelahian” antara suami dan istri. Perkelahian yang di dengar ibu itu adalah demikian:

Bapak: “Mak..e.. Bikkin dulu makanku, aku sudah lapar”
Ibu: “Ambil ajja sendiri!”
Bapak: “Jangan gitu kau mak, bikkinlah dulu aku sudah lapar”
Ibu: “Emangnya bapak tidak punya tangan apa? Kerjaannya hanya merintah aja! marah-marah lagi”

Demikianlah “perkelahian” itu di dengar oleh si ibu yang lewat tadi. Lalu terlintas di pikirannya: “Bah… baru menikah sudah langsung berkelahi, hebat sekali keluarga ini”

Sampai di tempat permandian si ibu cerita kepada ibu-ibu yang lain: “He.. Eda! Lihatlah! Keluarga yang baru menikah itu rupanya hanya berkelahi saja. Semestinya masih bulan madu toh, masa langsung berkelahi?” Demikian si ibu ini cerita kepada ibu-ibu di tempat permandian itu.

Sampai di rumah, ia pun cerita kepada suaminya, bahwa keluarga yang baru menikah itu, selalu berkelahi “setiap kali ia lewat dari depan rumah mereka.” Pendek cerita, tersebarlah tersebarlah berita ke seluruh kampung bahwa keluarga yang baru menikah itu pekerjaannya “hanya berkelahi saja setiap hari”

Rupanya berita itu sampai juga ke kuping keluarga yang baru menikah itu, sehingga ia menjadi gusar.

Sore hari, seperti biasa si bapak yang baru menikah ini pergi ke warung (lapo), tapi baru sampai di depan warung ini orang-orang sudah pada berbisik-bisik. Si bapak yang baru menikah ini diam saja, dan lalu memesan kopi.

Lalu ada seorang bapak pengunjung warung ini memberanikan diri berkata: “Kami dengar, kalian hanya berkelahi setiap hari, padahal baru menikah, kok bisa seperti itu?” Si bapak yang baru menikah menjawab: “Siapa bilang kami hanya berkelahi saja?” Datang si bapak tadi: “si anu” (sambil menunjuk pada seorang bapak yang lagi duduk minum kopi).

Karena penasaran si bapak yang baru menikah ini menjumpai bapak yang dimaksud tadi sambil berkata: “Siapa yang bilang bahwa kami setiap hari hanya berkelahi?” Datang bapak itu menjawab: “Istriku yang mengatakan itu”

Dengan suara keras si bapak yang baru menikah ini berkata: “Biar tahu ya kalian semua, kami tidak berkelahi, lihat ini (sambil menunjukkan kertas foto copy-an), kami tidak seperti yang kalian bisik-bisikkan, tapi kami sedang latihan drama untuk natal!”

Bah tahe, rupanya keluarga yang baru menikah itu ditunjuk pendeta untuk memerankan suami-istri dalam keluarga yang selalu berkelahi untuk drama natal yang sudah dekat.

Renungan:
Memang sangat enak berbisik-bisik tentang orang lain, apalagi itu adalah hal-hal yang kurang baik. Padahal belum tentu hal itu benar seperti ilustrasi ini. Kalau dipikir berapa banyak orang yang berdosa gara-gara seperti itu? Berapa pula yang menjadi sakit hati? Nggak usahlah seperti itu, biarlah yang baiknya saja kita ceritakan.