Tiga hari belakangan ini adalah hari-hari yang cukup melelahkan buat saya. Sebab saya harus merampungkan proposal tesis, menghubungi dosen yang akan menguji, dan beberapa persyaratan lain yang rupanya prosesnya berbelit-belit, dan tapi tadi pukul 09.00 WIB sudah di uji. Syukurlah dengan perdebatan yang panjang selama dua jam akhirnya saya diperbolehkan melanjutkan penelitiannya.

Saya bersyukur karena Tuhan begitu baik dan selalu menyertai saya. Padahal kalau ber-kilas balik ke belakang, mengikuti kuliah ini penuh dengan tantangan. Tantangan pertama adalah dari HKBP karena secara lembaga sebenarnya saya tidak boleh melanjutkan studi karena syarat melanjutkan studi harus meninggalkan pelayanan. Padahal kalau saya meninggalkan pelayanan tentu saya tidak mungkin bisa melanjutkan studi, karena persoalan dana. Beasiswa tidak mungkin karena itu adalah milik beberapa orang tertentu. Kalau saya kuliah sambil melayani, tentu saya bisa menyisihkan sebagian dari “Parbalanjoon” (Gaji) dari gereja di mana saya melayani.

Disinilah saya melihat begitu hebatnya seorang ibu (istri saya) mengatur keuangannya yang tidak seberapa tetapi masih bisa di aturnya untuk biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, belum lagi susu anak kami, dan sebagainya. Kadang saya kasihan juga melihatnya sebab dia harus menahan seleranya untuk beli pakaian atau kebutuhan yang lain hanya untuk biaya uang kuliah.

Semester lalu saya malah hampir putus asa, karena pas waktunya harus membayar uang kuliah uangnya masih kurang satu jutaan. Tapi memang Tuhan itu baik. Pas jadwal pembayaran tinggal satu hari lagi datang telepon dari Bimas Kristen memanggil saya. Sampai di sana saya diberikan uang sebanyak Rp. 800.000, katanya ada program pemerintah untuk penyuluh kerohanian honorarium, dan saya di daftar sebagai penerima. Jadilah berlanjut perkuliahan semester ini.

Secara organisasi HKBP mungkin tidak mengakui saya telah studi lanjut, namun menurut saya yang terpenting adalah bahwa saya telah mendapatkan banyak ilmu sesuai program studi yang saya ikuti. Bagi sebagian orang mungkin saja akan mengatakan bahwa tujuan saya studi lanjut ini adalah tujuan politis dalam jenjang karir di HKBP (bahasa kasarnya supaya bisa jadi praeses he..he..) terserahlah. Nggak ada yang bisa melarang itu.

Sekarang yang paling penting adalah bagaimana segera menyelesaikan penelitian ini supaya segera selesai. Mutasi sudah menunggu karena sesuai dengan lamanya di melayani di HKBP Ujung, sudah waktunya, dan itu adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.

Akhir kata, semoga ilmu yang didapat akan berguna untuk pelayanan saya. Amin.