Sudah menjadi kebiasaan di beberapa gereja HKBP selalu mengadakan acara lelang untuk mencari dana operasional gereja, maupun untuk pembangunan, dan atau pun kebutuhan lainnya.

Demikianlah di sebuah gereja diadakan acara kebangunan NHKBP (muda-mudi gereja) dengan mengadakan pesta untuk mencari dana. Pestanya begitu meriah dan juga acara lelangnya.

Seorang bapak yang bernama amani Dokkon sebenarnya sudah kesal melihat seorang pejabat yakni seseorang yang boleh dikata adalah orang yang “berada” di gereja itu, dan seperti biasanya orang itu selalu juara satu kalau urusan lelang-melelang di gereja.

Makanya pada saat melelang ulos amani Dokkon ini selalu berusaha mengimbangi lelang pejabat tersebut. Kalau pejabat itu menyebut satu juta, amani Dokkon akan mengimbanginya dengan satu juta setengah. Pejabat dua juta, amani Dokkon dua juta setengah.

Demikian seterusnya hingga harga ulos itu mencapai lima juta dan pemenangnya adalah amani Dokkon. Dengan semangatnya ia pun menerima ulos hasil lelang tersebut yang langsung diuloskan (disematkan) oleh pendeta setempat.

Beberapa minggu kemudian datanglah panitia pesta ke rumah amani Dokkon untuk martagi (meminta) pembayaran lelang. “Horas amang, kami dari panitia datang untuk meminta pembayaran lelang yang sudah di menangkan amang.”

Dengan polosnya amani Dokkon menjawab: “ok” dan ia pun masuk ke kamar mengambil uang dan memasukkannya dalam amplop.

Sebelum pulang panitia menghitung uang yang ada di amplop tersebut tapi jumlahnya tidak lima juta melainkan dua juta. Panitia pun tidak dapat menerima hal itu. Lalu terjadilah perdebatan yang sengit antara panitia dan amani Dokkon. Datang panitia: “Amang yang mengatakan lelang amang lima juta, seharusnya amang harus bertanggungjawab” Amani Dokkon menjawab: “Cuma segitu yang bisa saya berikan”

Pada puncak perdebatan amani Dokkon berkata: “Ai na dirimpu hamu hamu do sude na hudok i tingkos? (kalian pikkir apa yang saya katakan semua benar?). “Saya hanya mau mengalahkan bapak pejabat itu. Sekali-kali saya juga ingin jadi juara satu”

Panitia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Renungan:
Seseorang yang ingin memberi janganlah karena besar atau kecilnya, tetapi hendaklah memberi dengan kerelaannya.