Jodoh dan betis, apa hubungannya? Namun itulah kenyataan yang kulalui di dalam hidupku dalam rangka mencari calon istri. Umur 33 tahun tidak punya pacar, sementara orang tua sudah menuntut supaya menikah. Sementara papa sudah tua 77 tahun (mama sudah duluan), sakit-sakitan tapi tidak bosan-bosannya menyuruh aku untuk menikah.

“Mangoli ma ho amang, sude angka haham dohot ibotom nunga marhasohotan. Aha dope na pinaimam? Ho do siampudanhu. Apalagi ho pandita. Asa tamba tongam hapanditaonmi ingkon mangoli do ho.”

“Menikahlah amang, semua abang dan kakakmu sudah menikah, apalagi yang di tunggu? kamu anakku yang paling bungsu, lagian kamu pendeta. Supaya kependetaanmu berwibawa, kamu harus menikah”

Kalau papa sudah ngomong gitu, aku diam ajalah. Tapi dalam hati sebenarnya, bukan persoalan saya tidak mau. Nyatanya dalam hati adalah terlalu banyak harapan-harapan yang saya prinsipkan tentang syarat menjadi istri pendeta. Harus beginilah, harus begitulah, dan sebagainya.

Kadang saya berpikir, kalau maunya sih anak orang kayalah biar bisa “parsigantungan” (numpang rejeki), orang yang tinggi dan cantiklah untuk perbaikan keturunan, yang mahir main musiklah biar hobby kami sama, belum lagi harus pintar masak, merawat anak, pokoknya banyak sekali harapan itu. Karena banyaknya harapan itu, satu pun tidak ada yang cocok menjadi calon istri sesuai dengan harapan-harapan itu.

Papa memang sangat sayang sama aku, saking sayangnya kemana pun aku di tempatkan pucuk pimpinan, papa selalu mengunjungi walaupun kesehatannya sudah semakin memburuk. Sampai akhirnya penempatan di Surabaya papa tidak bisa lagi karena kejauhan katanya, akhirnya ia tinggal di Jakarta di rumah ituko yang bungsu.

Suatu waktu datang telepon dari Jakarta, namanya Linawati br silalahi, Diakones yang lagi kuliah semester akhir, mengambil analisis kesehatan. “Halo amang, ada lho yang mau kukenalin sama amang, katanya dia mantan pacar amang, dan bla…bla..” kesimpulannya saya nggak tertarik.

Bulan berikutnya ada pelatihan pelayanan di bogor, mumpung di bogor saya sempatkan menjumpai papa di rumah ito. Iseng-iseng aku telepon diakones dame (yang kemudian adalah jodohku) untuk main ke rumah. Rupanya ia datang (padahal tadinya hanya hanya basa-basi saja, makanya pas dia datang aku lagi tidur, karena nggak ada pikiran ia akan datang).

Satu jam-an pertemuan aku antar dia pulang ke kost-annya. Diam-diam ada simpatik juga sama dia. Tapi nggak kutunjukkan. Sehabis mengantar papa bilang: “Dia ajalah istrimu” aku bilang: “nggak ah, kurang cantiknya kulihat” papa langsung marah: “markanca jo ho (berkacalah dulu), mukamu sudah kek mana rupanya, apakah kau sudah ganteng?”

(di situ saya sadar, bah… betul juga kata papa, udah muka jelek, rambut ranjo (lurus dan tajam), hitam, masih sok memilih lagi)

Tapi papa bilang lagi: “ai bagak do bitisna?” (apakah betisnya bagus?). Aku nggak ngerti maksud papa. Belakangan aku tahu, rupanya dulu cara papa memilih mama adalah melihat betisnya, karena katanya itu berhubungan dengan keturunan. Ada aja pikirku.

Pendek cerita, aku pun langsung melamar Diakones Lina jadi istri, tidak memintanya jadi pacar, langsung jadi istri saja. Terkejut juga dia karena aku bilang jadi istri saja, dan dengan cara yang halus dia setuju. Dalam hati… syukur Tuhan, akhirnya Engkau menunjukkan jalan. Aku bawa ia ke papa, mohon doa restu. Tapi diam-diam aku bilang sama Lina, “pura-pura ditarik tarik dulu spannya (celana panjang), supaya papa bisa melihat betis yg dimaksudnya itu” dan memang diam-diam aku lihat papa melirik juga.

Hari itu adalah bulan sebelas 2005, aku minta ke papa supaya kami menikah bulan Juni 2006 saja, tapi papa bilang: “aku nggak bisa menunggu selama itu, waktuku sudah dekat” karena aku lihat papa ngomongnya tidak main-main, lalu kami sepakat bulan Pebruari saja, tepatnya 4 pebruari 2006.

Setelah menikah aku selalu bilang ke papa, “jangan dulu pergi sebelum kami punya anak” papa hanya menjawab: “Pangido ma tu Tuhan i (mintalah sama Tuhan), kalau aku sudah pasrah kok” itu yang selalu papa bilang. Dan memang penyakitnya semakin hari semakin parah. Papa juga sering telepon, apakah sudah ada? (maksudnya bakal cucunya).

Bulan ketiga aku telepon papa, “pa. calon cucumu sudah ada” dan papa menjawab: “Terima Kasih Tuhan” Hanya jawaban yang singkat itu yang ia sebutkan, dan benarlah minggu depannya, pagi sekitar pukul enam, ia sudah pergi menghadap Tuhannya.

Dari kisah ini saya berkesimpulan, seandainya saya tidak menuruti permintaan papa untuk menikah, betapa kejamnya saya dan telah mengecewakannya, seandainya saya tidak menuruti permintaannya untuk menikah bulan Pebruari dan memaksanakan bulan Juni, dia tidak akan menyaksikan perkawinan kami sebab ia sudah pergi bulan mei, dan satu perjanjian kami, atas seijin Tuhan, dia pergi setelah kami punya anak.

TERIMA KASIH TUHAN, ENGKAU MAHABAIK!