Dulu ketika saya masih dolidoli (belum menikah), saya menganggap bahwa hal-hal seperti pekerjaan di rumah (menyapu, mengepel, memasak, menyuci, dan lain-lain) adalah pekerjaan perempuan dan tidak ada sangkut pautnya dengan laki-laki. Pekerjaan laki-laki itu adalah mencari uang, sebagai suami nantinya, apa yang saya katakan dan perintahkan kepada istri harus dilaksanakan. Sehingga ketika mencari calon istri syarat utamanya adalah mahir dalam segala pekerjaan rumah termasuk mengasuh anak, dan sebagainya yang sesuai dengan kehendak dan semaunya saya.

Namun setelah menikah, apa yang saya sebutkan tadi tidak sesederhana yang saya pikirkan. Ternyata walaupun pekerjaan seorang ibu di rumah kelihatannya sederhana, namun pekerjaan itu ternyata begitu berat. Sementara memasak, inang harus menyapu. Belum lagi lantai selesai di pel, anak kami Ezekiel sudah mengotorinya, mau tidak mau harus di pel lagi. Belum lagi cuciannya yang sudah menumpuk, sementara pakaian yang sudah dicuci belum lagi di gosok.

Belum lagi melayani saya sebagai suaminya, yang tahunya hanya merengek saja kalau tidak segera dilayani. Dibuatin kopi, makan, siapkan pakaian, dan sebagainya. Demikian seterusnya, saya mengamatinya sebelum tengah hari inang sudah kecapaian.

Bah… betapa teganya saya membiarkan semuanya itu?

Apa salahnya saya membantunya kalau tidak lagi sibuk dalam pelayanan? Apa salahnya bebannya saya ringankan dengan memberi perhatian dan membantunya?

Pada mulanya memang sulit. Ada banyak hal yang menghantui: “Emangnya aku apaan? Dia sudah saya beli kok dengan sinamot? Nanti orang bilang saya adalah anggota Club Suami-Suami Takut Istri? Pendeta kok menyapu? Enak aja!”

Tapi saya makin sadar. Awalnya, saya membantunya hanya alasan buat olah raga, supaya badan ini bergerak. Tapi lama kelamaan hal itu tidak baik menjadi alasan. Alasan yang paling tepat adalah karena saya sudah menjadi satu dengannya, dan orang yang sudah disatukan Allah tidak akan saling membiarkan. Dan yang paling membuatku bahagia adalah “Inang makin sayang sama aku…ehheeem….”