Entah karena apa, sepasang suami-istri berselihih paham! Sehingga mereka tidak saling teguran. Bahkan karena saling dongkolnya, tidur pun mereka saling membelakangi.

Suatu hari, karena urusan kantor, si bapak harus segera berangkat ke kantor, tapi si bapak ini sangat sulit bangun pagi. Biasanya ia harus di bangunkan istrinya. 

Justru di sinilah masalahnya. Mau bilang sama istri untuk membangunkannya pagi-pagi, dia segan, karena mereka tidak saling teguran.

Tidak habis akal, akhirnya si bapak mengambil secarik kertas dan menuliskan kalimat ini: “Ma.. tolong bangunkan saya nanti pagi. Soalnya saya harus cepat-cepat berangkat ke kantor, ada urusan yang harus diselesaikan.”

Selesai menuliskannya, si bapak meletakkannya di atas meja dapur.  Pikirnya, “kalo ibu bangun biar langsung di bacanya”

Pagi harinya, si istri bangun, langsung ke dapur, dan melihat ada kertas di meja. Lalu ia pergi ke kamar tidur untuk membangunkan suaminya. 

Sewaktu mau membangunkan, ia teringat, rupanya mereka belum saling teguran. Pikirnya, “Kalau saya membangunkan suamiku, nanti saya yang kalah, nggak mau akh..”

Tidak habis akal, lalu ia mengambil kertas tadi, dan menuliskan kalimat seperti ini: “Pa.. bangunlah, sudah pukul lima nih…” Lalu si istri  meletakkannya di atas bantal dekat suaminya.

Apa yang terjadi? Akhirnya terlambat bangunlah. Si suami pun baru bangun pukul delapan paginya. Padahal urusannya sudah harus diselesaikan sebelum pukul delapan pagi itu. 

 

Renungan:

Kedamaian tidak akan kita temukan kalau kita masing-masing saling mempertahankan kebenaran kita. Apalagi sampai tidur pun sudah saling membelakangi. Ingatlah ketika kita mengalah bukan berarti kita kalah.