Hal ini saya sadari ketika pulang dari sebuah perjalanan. Sesudah sampai di rumah, saya membongkar isi kopor dan ketika saya mengamati lebih dekat isi kopor itu, saya semakin terkejut.

Selain pakaian yang saya bawa di dalamnya ada tiga bungkus kue kering yang saya kantongi dari acara jamuan makan. Ada beberapa bungkus permen dari pesawat terbang di tambah dua kertas tissue berlabel cetakan pesawat terbang yang saya tumpangi.

Ada sebuah buku tulis dan pena berlambang tempat di mana saya menginap. Ada satu buah sendok plastik dari tempat saya sarapan sewaktu menunggu pesawat berangkat. 

Dan yang membuat saya melongo ada satu bungkus lampet (kue yang terbuat dari tepung beras) yang sudah mengering dan lupa saya makan.

Apa yang saya sadari setelah mengamati semua barang-barang “berharga” yang terkumpul ini? Semuanya sah bahwa saya pada dasarnya adalah seorang penimbun, alias orang yang kurang percaya.

Saya tidak menunggu makanan sehari-hari seperti Doa yang diajarkan Tuhan Yesus (Matius 6:9-13). Dan mungkin jika saya berada di padang gurung seperti bangsa Israel, saya adalah termasuk orang yang tergila-gila untuk mengumpulkan manna sebanyak-banyaknya.

 

Renungan:

Ada istilah mengatakan: Mengapa terjadi kelaparan? Karena ada “sedikit” orang makan terlalu banyak sehingga orang yang disebelahnya kelaparan. Kenapa terjadi kemiskinan? karena ada “sedikit” orang mengambil terlalu banyak sehingga orang lain tidak kebagian.