Dalam kepercayaan suku Batak, Begu adalah roh orang mati, selama manusia hidup rohnya di sebut tondi, bila ia mati akan disebut begu. Sebagai begu ia ditakuti dan jika ada penyakit dan malapetaka, begu akan dianggap sebagai penyebabnya. Begu juga tidak hanya satu jenis tetapi terdiri dari beberapa macam sesuai dengan pekerjaannya dan apa yang dia lakukannya. Beberapa di antaranya misalnya adalah beguantuk (penyakit kolera), begusorposorpo (penyakit yang timbul mendadak), beguladangon (sepulang dari ladang tiba-tiba sakit karena diserang begu yang ada di ladang), Beguganjang (hantu yang semakin di lihat semakin tinggi dan dapat dipelihara untuk melaksanakan segala perintah tuannya), dan tentunya masih banyak lagi.

Cara hidup begu sangat janggal, berbeda dengan manusia, misalnya kalau turun tangga kepalanya ke bawah dan kaki ke atas, tidur siang hari dan berjalan-jalan pada malam hari sehingga apa saja yang janggal dinyatakan dengan kata-kata begu.

Kepercayaan tentang adanya begu masih ada seperti yang saya alami ketika di tempatkan di suatu daerah pelayanan (nggak usah di sebut namanya). Sebagai pelayan yang baru di tempatkan di satu daerah, saya pun mengadakan perkunjungan ke rumah warga jemaat. Di setiap diskusi selalu ada perbincangan bahwa di daerah itu masih ada yang memelihara beguganjang. “Hati-hati Amang, si anu itu (maksudnya seseorang) pemelihara beguganjang, jangan pergi ke sana”

Suatu waktu saya pergi ke sebuah warung/lapo, di sana saya minum kopi (walaupun sebenarnya ada juga tuaknya, he..he..). Sepulangnya dari sana ada seorang warga yang bilang. “Kenapa Amang pergi ke sana? Dia itu pangarasun” (orang yang meracuni orang). Saya juga heran (Sebab yang bilang ini pun punya warung/lapo juga). “Siapa mempersalahkan siapa ini?”

Akhirnya tibalah jadwal persekutuan ibadah keluarga. Saya sudah putuskan: tidak ada pengecualian, semua warga jemaat harus kebagian jadwal. Walau pun rumahnya tidak ada listrik, masing-masing membawa lampu teplok. (Mungkin karena saya masih baru, mereka mau mengikuti apa yang saya katakan, ehmmm…)

Kebetulan jadwal kebaktiannya adalah ke rumah orang yang di tuduh memelihara beguganjang. Sebenarnya, sudah banyak yang mengatakan supaya kebaktian di rumahnya nggak usah dilaksanakan, namun karena sudah disepakati bahwa semua warga jemaat harus kebagian jadwal, saya pun mengatakan: “kita harus ke sana” (walau pun dalam hati agak deg deg-an juga).

Benarlah apa yang saya duga warga jemaat pun berdatangan tapi jumlahnya tidak seperti biasanya. Ibadah pun berjalan seperti biasa. Namun setelah ibadah selesai semua pada punya alasan supaya cepat-cepat pulang. “Amang! kami duluan, ada pekerjaan di rumah” Sebagian lagi berkata: “Permisi Amang! Anak saya tidak ada yang jaga” Pokonya banyak alasan. Akhirnya, tinggal saya sendiri dengan pemilik rumah. Mau pamitan, agak segan, nanti di anggap tidak menghargai tuan rumah. Akhirnya, saya beranikan juga untuk minta supaya saya disuguhkan kopi. Padahal dalam hati: “Tuhan tolong hambaMu, berikan kekuatan supaya tidak terjadi apa-apa”

Dengan tanpa menyinggung perasaaan, saya memberanikan diri untuk bertanya apakah benar seperti yang dituduhkan orang kepada keluarga itu. Dengan keyakinan teguh keluarga itu menjawab saya. “Dari kakeknya kakek, kami sudah Kristen dan pengikut Kristus. Masakan kami masih mempercayai hal seperti itu? Malah Bapak itu menambahkan: “alai anggo ahu dohot donganku sajabu, ingkon Jahowa do oloannami.” (Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! Yos. 24:15c).

Akhirnya saya punya pemikiran jangan-jangan orang-orang di sini hanya mau “manghosomi” (menghakimi) saja kerjanya. Ada-ada saja.