Sudah banyak yang merugi akibat “krisis keuangan dunia.” Bagi yang terlibat di dalam bisnis saham-menyaham banyak yang merugi atau kemungkinan bangkrut. Karenanya setiap orang harus pandai-pandai mengatur keuangannya. Intinya “pengeluaran harus diirit.”

Tapi cerita ini bukan persoalan mengalami kerugian. Ini adalah soal memanfaatkan situasi “krisis keuangan dunia” untuk berbohong pada istri.

Beberapa hari yang lewat, istri saya minta uang. Katanya untuk membeli baju dinas persekutuan ibu (parompuan) di gereja saya.

Spontan saya menjawab: “Nggak ada! Dari mana saya ber-uang” “Lagian mama nggak tahu apa? Dunia lagi dilanda krisis keuangan!” “Jelas-jelas isi dompet pun akan terpengaruhlah” Karena saya merepet begitu, istriku pun maklum juga.

Setelah itu kami bertiga (aku, inang, Ezekiel) duduk-duduk di lantai sambil menonton TV. Entah kenapa, dompet saya terjatuh dari kantong. Saya tidak memperhatikannya tapi anak saya melihatnya, dan lalu dengan polosnya ia mengeluarkan semua isi dompetku.

Ada KTP, SIM, dan lain-lain. Yang tidak enaknya lagi sama istriku, “ternyata uang di sompet itu banyak” Cukup untuk untuk kebutuhan yang diminta inang (istriku). Istriku melirik ke aku dan aku pun melirik ke istriku, dia nggak bilang apa-apa, terdiam…. “Dalam hati aku bicara, ketahuan nech… padahal aku tadi sudah bilang: Nggak ada”

Renungan:

Apa pun itu, ketidakjujuran dan kebohongan, tidaklah dibenarkan. Katakanlah sejujurnya. Toh, suatu ketika akan ketahuan juga.