Seorang istri yang selalu tertekan oleh suaminya berusaha untuk selalu sabar dan tabah. Walau pun suaminya selalu marah dan bahkan selalu menyalahkannya kalau ada permasalahan, ia tetap sabar. “Dari pada ribut, malu di dengar tetangga” Pikirnya.

Rupanya kadar kesabaran dan kekesalan setiap orang berbeda-beda. Si istri tersebut tidak tahan lagi atas perlakuan suaminya. Berbagai cara telah dilakukannya. “Apa akalku untuk membalaskan sakit hatiku ini?”

Lalu pada suatu malam, ketika mereka tidur di ranjang, si istri berpura-pura mimpi. Dalam mimpinya ia meninju orang. Lalu ia pun meninju suaminya sekuat tenaga.   “Buuug”   Dengan telak, muka suaminya kena tinju.

Saking terkejutnya, suaminya melompat dari ranjang, sembari berteriak: “Hei! Ada apa ini?” 

Si istri pura-pura tidak tahu, malah membalikkan badannya, dan sambil memperkuat suara ngoroknya.  

Si suami pun tidak bisa marah alias bingung, hanya berkata: “Bah! Yang mimpi nya kau ma?” 

Padahal si istri dalam hati tertawa sambil berkata: “Mampus! Sakit hatiku sudah terbalaskan!

 

Renungan:

Kekesalan hati atas perlakuan orang lain terhadap kita bisa membuat kita marah, benci, dengki dan lain sebagainya. Solusi untuk mengatasi kekesalan itu harus kita lakukan. Tapi apakah kekerasan harus di balas dengan kekerasan?