Hari itu, adalah Ulang Tahun. Karena Anak-Anak Sekolah Minggu sangat sayang dengan Pendetanya, maka mereka pun datang sore harinya setelah semua tamu pada pulang. Mereka datang dengan membawa salam dan juga hadiah ulang tahun.

Pendeta menerima hadiah yang terbungkus dari Dina dan berkata: “Ah, saya tahu kau membawakan aku buku” (Kebetulan Bapak Dina mempunyai toko buku di kota).

“Benar Amang (Panggilan untuk Pendeta), dari mana Amang tahu?” 

Jawab Pendeta: “Pendeta kan selalu tahu!”

Yang berikutnya adalah Togu. “Dan kau Togu, membawakan aku baju panas,” kata Pendeta sambil mengambil bungkusan yang dibawa oleh Togu. (Bapak Togu adalah pedagang pakaian bekas atau burjer, atau dengan bahasa lain monja). “Benar sekali Amang, dari mana Amang tahu?”

Jawab Pendeta: “Ah, Pendeta kan selalu tahu!”

Demikianlah seterusnya sampai Pendeta mengangkat kotak yang dibawa si Bonar, kertas pembungkusnya basah (Bapak Bonar menjual anggur dan juga minuman keras lainnya), maka Pendeta berkata: “Aku tahu, Bonar membawakan amang anggur dan menumpahkannya sedikit.”

“Salah,” kata Bonar, “Ini bukan Anggur”

Semakin penasaran Pendeta berkata: “Kalau begitu sebotol Bir,”

“Salah lagi,” kata Bonar.”

Jari-jari Pendeta basah. Ia menjilat salah satu jarinya, tetapi tidak dapat menebak. “Kalau begitu Kamput”

“Bukan!” kata Bonar, saya membawakan Pendeta anak anjing”

 

Renungan:

Pendeta juga manusia dan tidak selalu mengetahui apa yang terjadi terutama persoalan jemaatnya. Yang lebih baik adalah harus lebih banyak mendengar. Dan setelahnya akan mendatangkan selusi yang baik.