Seorang ibu penjual semangga di pinggir jalan menjual semangkanya sambil berteriak. “Semangka merah, semangka manis, kalau tidak merah, tidak manis” Demikian selalu diserukan oleh ibu penjual semangka tersebut, supaya semangkanya laku.

Lewat seorang bapak mengendarai sepeda motor dan tertarik untuk membeli semangka yang di jual oleh si ibu tadi. Dan terjadilah transaksi jual beli. Si Bapak membeli semangka yang tiga kilo satu dua buah. Si Ibu memasukkannya dalam kantong plastik.

Tetapi hendak berangkat, kantong plastiknya terkoyak dan semangkanya jatuh dan semangkanya hancur menjadi beberapa bagian.

Alangkah terkejutnya si Bapak itu, karena ternyata semangkanya tidak seperti yang dikatakan si Ibu penjual semangka tersebut. Tidak merah, alias putih dan tentunya tidak manis. Pikirnya: “Aku telah dibohongi, awas! Semangka ini akan aku pulangkan”

Dengan amarahnya si Bapak mengembalikan semangka yang sudah pecah tersebut. “Dasar pembohong, Ibu bilang semangka merah, semangka manis, kalau tidak merah, tidak manis,” “Ini buktinya, semangka ibu tidak merah, malahan warnanya pucat”

Datang si penjual: “Hei Bapak! Barang yang sudah di beli tidak dapat dikembalikan,” Itu sudah aturan jual beli Bapak!”

Mereka lalu saling melontarkan perkataan yang tidak enak di dengar. Dan akhirnya, si penjual berkata: “Yang hebatlah Bapak ini, Bapak ini pun laki-laki. Sedangkan manusia kalau jatuh, pasti pucat. Apalagi semangka ini?”

Si Bapak Bingung???

Renungan:

Pembenaran diri itulah yang sering kita lakukan. sudah salah tapi tidak mau mengaku. Yang penting apa yang kita inginkan bisa tercapai. Yang terbaik adalah bersikap jujur dan saling mengakui kekurangan kita.