Entah kenapa, suami istri yang baru menikah itu tiba-tiba berantam. Pada klimaksnya, mereka saling mengusir dari rumah itu. “Keluar kau dari rumah ini”, kata sang suami. Si istri juga membalas: “Kau yang keluar dari rumah ini.”

Takut malu dari tetangga, akhirnya si suami keluar dari rumah dengan membanting pintu dengan sekuatnya. Beberapa langkah dari rumah, si suami mulai ragu dan berpikir. “Seriuskah istriku mengusir dari rumah? Masa persoalan begitu saja jadi serius? Masa istriku nggak ingat masa-masa pacaran dulu, akan tetap selalu setia. Apakah istriku serius mengusir aku?”

Untuk membuktikan keraguannya, akhir ia berbalik dan mengintip dari lobang pintu. “Mana tahu ini hanya gertakan”

Rupanya si istri pun berfikiran yang sama. “Masa persoalan begitu saja kok langsung pergi meninggalkanaku?

Untuk membuktikan keraguannya, akhir ia berbalik dan mengintip dari lobang pintu. “Mana tahu ini hanya gertakan”

Apa yang terjadi? Terjadilah mata ketemu mata. tidak tahu lagi mau bilang apa?

Si istri: “Kaunya itu papi?  Si Suami: “Akunya itu mami” (Saling merasa malu)

Si istri: “Masuklah pa, dingin di luar” Si Suami: “Ia ma, masuk pun aku”

Renungan:

Pertentangan bisa saja terjadi kepada siapa pun, namun apakah setiap pertentangan di akhiri dengan perpecahan? Berbalik dan saling mengoreksi diri, itulah bagian yang terbaik.