Sebuah keluarga tinggal di Perumahan Angkatan Laut. Mereka baru manikah dan walaupun suaminya berpangkat rendah si istri tetap bangga dan keluarga itu selalu bahagia. Beberapa saat kemudian, oleh karena tugasnya maka suaminya pergi berlayar dan lamanya tugas ini selama enam bulan. Setelah tugas ini selesai si suami pun kembali. Begitu senangnya istrinya ini karena suaminya sudah kembali, dan memeluknya saat kembali di rumah, tetapi si istri heran: ”Sepertinya ada yang berbeda dari suamiku ini pikirnya”

Pagi-pagi seperti biasa sebelum berangkat, si istri selalu menyiapkan sarapan suaminya, tetapi sarapannya tidak disentuh sedikit pun oleh suaminya, dan langsung berangkat ke kantor dengan alasan sudah terlambat. Padahal sebelum suaminya ini berlayar, seterlambat apa pun biasanya suaminya pasti makan sarapan yang dibuatkan istrinya.

Begitulah hari berganti hari sepertinya suaminya semakin ”dingin” dan jelas saja si istri mulai curiga, akhirnya si istri punya kesimpulan: ”Jangan-jangan suamiku ini sudah diguna-gunai orang. Kok setelah berlayar suamiku berubah? Kami dulu begitu mesra dan bahagia. Kalau begitu saya akan menanyakan ini kepada orang pintar”

Demikianlah lalu si istri pun pergi menjumpai orang pintar dan menceritakan semua kejadiannya dan memohon bagaimana supaya suaminya kembali seperti sedia kala yakni kemesrasaan sebelum suaminya pergi berlayar. Lalu orang pintar ini mengatakan: ”Kalau suamimu ingin kembali seperti semula, engkau harus mencari satu helai kumis harimau yang masih hidup” ”Kumis harimau yang masih hidup? Gimana caranya itu? Apa yang harus saya lakukan?” Pikir si istri ini, tetapi karena cintanya kepada suaminya ia pun pergi dari rumah orang pintar ini dengan keyakinan ”Saya harus mendapatkannya”

Si istri ini pun pergi ke hutan mencari dimana ia bisa menemukan harimau, dan benarlah di sebuah gua ia melihat ada tinggal seekor harimau. ”Gimana caranya mendapatkan kumisnya?” Si istri lalu mengantarkan makanan harimau ini setiap hari. Mula-mula setelah ia meletakkan makanan harimau ini, ia pergi dan mengintip dari kejauhan, maklum ia sangat ketakutan. Demikian dilakuannya setiap hari selama berminggu-minggu dan berbulan bulan, dan beberapa bulan kemudian si istri ini sudah berani dekat dengan harimau tersebut. Pendek cerita setelah sekian lama usahanya ini, si istri ini sudah berani dekat duduk di dekat harimau ini ketika harimau ini sedang memakan apa yang diberikan si istri ini.

Karena si istri dan harimau ini sudah kompak maka suatu hari ketika harimau tersebut sedang makan dan si istri ini duduk disampingnya, si istri ini mencabut satu helai kumis harimau ini. Karena harimau ini sudah jinak, harimau ini tidak marah kumisnya dicabut malah seandainya si istri ini mengerti bahasa harimau si harimau malah berkata ”molo porlu cabut muse kumishi” (kalau perlu cabut lagi kumisku).

Karena senangnya telah mendapatkan kumis harimau ini, si istri berlari dengan semangatnya menjumpai orang pintar itu. Dan sesampainya di sana ia berkata: ”ini kumis harimau yang bapak minta” Lalu orang pintar ini mengambil kumis harimau tersebut dan kemudian membuangnya ke dalam perapian, dan meyuruh si istri ini pulang ke rumah. Melihat itu si istri ini sangat marah. ”Apa-apaan ini? Saya sudah capek dan berusaha mendapatkannya, sampai-sampai saya tidak memikirkan diriku, malah bapak dengan enaknya membakarnya? Saya tidak terima”

Orang pintar itu mengulangi perkataannya, ”pulanglah bu ke rumahmu” Si istri menjawab, ”saya tidak mau, pokoknya saya tidak mau” Lalu dengan nada agak marah  orang pintar ini berkata: ”Sudah kubilang pulang saja, lakukanlah seperti kepada harimau itu” ”Gimana maksud bapak?” Orang pintar melanjutkan: ”Harimau saja sudah bisa tunduk sama ibu, masa suami ibu tidak bisa ibu tundukkan? ”Pergi sana, kumis harimau saja ibu bisa cabut, apalagi kumis suamimu?

Si istri lalu tersadar, ”benar juga pikirnya” Ia pun pulang ke rumah dengan semangat baru dan keyakinan baru.

Renungan:

Jika kita berusaha, pasti ada jalan keluar dari setiap permasalahan kita, yang penting jangan putus asa dan yang pasti segala perkara kita itu kita serahkan kepada Tuhan, seperti FirmanNya yang mengatakan: ”Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).

About these ads